asra إسراء
 
My Social Network
Daftar Blog Lainnya
Kategori
Alexa Rank

IMAN TERHADAP SIFAT-SIFAT ALLAH

Sesungguhnya  aqidah Islam itu adalah kesaksian bahwa  tidak  ada Illah (Tuhan) selain Allah dan Muhammad Itu utusan-Nya. Kesaksian semacam ini menuntut seorang muslim untuk tunduk dan patuh terhadap Allah SWT serta mengangkat-Nya sebagai satu-satunya  sesembahan.  Ia  harus  menolak beribadat kepada  sesembahan  lain  baik berupa  berhala,  thoghut,  hawa nafsu,  syahwat  dan  lain-lain. Allahlah  satu-satunya pencipta yang berhak menerima  pengabdian. Dialah  sang  penguasa, yang berhak  bertindak  (Maalikul  Mulk), Pembuat  Undang-undang,  Pemberi  Hidayah,  Pemberi  Rizki,  Yang  Menghidupkan  dan Yang Mematikan, Yang Maha Menolong, Yang  Memiliki  Kerajaan dan Yang Maha Atas segala sesuatu.  Tidak  satupun dari  makhluk-Nya  yang bersekutu dengan-Nya  dalam  sifat-sifat tadi.
       
                Akan tetapi kenyataan dewasa ini iman terhadap Allah telah menjadi  iman  yang gersang dan hampa bagi kebanyakan  kaum  muslimin. Membeku  dan  tidak  memiliki jiwa lagi.  Bagi  kebanyakan  kaum muslimin iman terhadap Allah hanya terbatas pada iman akan adanya Allah. Mereka mewarisi iman semacam ini dari nenek moyang  mereka yang  diterima begitu saja. Padahal Islam menegaskan  bahwa  iman harus  datang  dengan jalan mengamati  dan  memikirkan.  Islampun mengharuskan manusia menggunakan akalnya pada saat beriman kepada Allah SWT.
       
"Katakanlah: 'Amatilah apa yang ada di langit dan di bumi. Betapa banyak ayat-ayat (bukti-bukti) dan peringatan yang tidak  berguna bagi kaum yang tidak beriman" (QS Yunus: 101)
       
                Oleh karena itu wajib bagi seorang muslim untuk menjadikan  imannya benar-benar muncul dari proses berfikir, meneliti dan  mengamati, betapapun sederhananya proeses tersebut. Ia harus  menjadikan  akalnya sebagai pemutus (hakim) yang mutlak  dalam  beriman kepada (keberadaan) Allah.
       
                Namun  tidak  cukup  bagi seorang muslim  hanya  mengakui  adanya Allah, melainkan harus disertai dengan iman terhadap  sifat-sifat Allah. Ia harus beriman bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang berhak  disembah  dan  disucikan,  satu-satunya Dzat  yang  berhak membuat  hukum  dan perundang-undangan. Sehingga  seorang  muslim tidak akan berlindung melainkan hanya kepada Allah, tidak berdo'a melainkan  hanya kepada Allah, tidak akan  meminta  perlindungan, rizki,  pertolongan dan kesembuhan melainkan hanya kepada  Allah. Ia sama sekali tidak akan mengambil hukum dan  perundang-undangan manusia, sebab hanya Allahlah yang memiliki hukum itu.
      
"(Dan)  mereka  memikirkan tentang penciptaan  langit  dan  bumi, seraya  berkata:  'Ya Tuhan kami, tidaklah  Engkau  ciptakan  ini dengan  sia-sia.  Maha suci Engkau, peliharalah kami  dari  siksa neraka" (QS Ali Imron: 191).
       
"Katakanlah: 'Serulah (memohonlah) kepada Allah atau kepada  nama mana  saja kamu seru. Dia memiliki nama-nama  (sifat-sifat)  yang terbaik" (QS Al-Isra: 110)
       
"(Hamba-hamba  yang baik itu) adalah mereka yang tidak  menyembah (tunduk/taat kepada) Tuahan lain selain dari Allah"  (QS Al-Furqon: 68)
       
"Hukum itu kepunyaan Allah. Dia telah memerintah agar kamu  tidak menyembah (tunduk/taat) selain kepada-Nya" (QS Yusuf: 40)
       
"Apabila  engkau  memohon  (berdoa), memohon  kepada  Allah.  Dan apabila  engkau meminta pertolongan, maka mintalah kepada  Allah" (HR Ahmad, Tirmidzi dan Hakim dari Ibnu Abbas: lih. Fathul  Kabir Jilid III hal 400).
       
                Iman  seorang muslim tidak akan sempurna kecuali jika ia  beriman kepada  Allah  berikut dengan sifat-sifat-Nya  Iman  semacam  ini sudah cukup bagi seorang muslim untuk menuntunnya berjalan  dalam kehidupan  dengan jalan yang telah dipilih oleh Allah SWT,  yaitu Dienul  Islam. Di dalam hatinya ia senantiasa  merasakan  getaran keagungan Allah dan selalu merasa takut kepada-Nya. Ia  senantiasa berhati-hati  untuk tidak melakukan perbuatan yang membuat  Allah murka. Bahkan sebaliknya ia selalu melakukan amal perbuatan  yang dapat mendekatkan dirinya dengan Allah melalui perkataan, perbuatan, ketaatan, maupun melalui ibadah-ibadah tertentu.
       
                Kita  harus menerapkan iman semacam ini dalam  kehidupan  sehari-hari  agar benar-benar menjelma dalam diri. Iman yang mampu  memberi  pengaruh  kuat dalam perbuatan dan  tingkah  laku  sehingga kesabaran  kita  meningkat dalam menghadapi segala  hambatan  dan penderitaan yang muncul menghalangi jalan hidup kita.
       
                Dalam rangka untuk merealisasikan sifat-sifat Allah dalam kehidupan  ummat, pada bagian ini, akan disajikan disini beberapa  contoh,  antara  lain sifat yang menunjukkan bahwa  Allah  SWT  Maha Pemberi  rizki (ar-Razzak), Yang memberi kenikmatan  (al-Wahhab), Yang  kuasa mencegah rizki (al-Qaabidl), Yang  kuasa  melapangkan rizki (al-Basith), maka wajiblah kita menghidupkan iman  terhadap sifat-sifat  tersebut dalam hati. Sehingga berdasarkan  keyakinan kita kepada sifat-sifat Allah tersebut dan disertai segala  usaha kita  maka kita bertolak mencari rizki dengan  bertawakal  kepada Allah SWT semata.
           
"Allah melapangkan rizki bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya  di antara  hamba-hamba-Nya  dan Dia (pula) yang  menyempitkan  rizki baginya"   (QS Al-Ankabut: 62)
       
"Dialah  yang menjadikan bumi ini mudah bagi  (perjalanan)  kamu, maka berjalanlah disegala penjurunya, dan makanlah segala  rizki-Nya. Hanya kepada-Nya lah kamu dibangkitkan untuk kembali" (QS Al-Mulk: 15).
        
                Jadi usaha manusia dalam mencari rizki merupakan salah satu jalan datangnya rizki. Oleh karena itu apabila kita beriman  bahwasanya rizki  itu  dari  Allah disertai dengan usaha  yang  halal  dalam mencari  rizki, maka hal ini akan memperluas pandangan  kita  dan mendorong  semangat  kita dalam mencari rizki. Jika  ruang  gerak dalam usaha menyempit dan sumber nafkah berkurang, seorang mukmin akan  menyadari hal ini mungkin sebagai cobaan dari  Allah  untuk menguji  imannya, apakah dengan ujian itu ia akan  menjadi  kufur atau  malah bersyukur dan bertambah imannya. Atau mungkin  berkurangnya  rizki  itu membuat ia terjerumus ke  dalam  kemaksiatan. Mungkin  juga berkurangnya rizki itu merupakan rahmat dari  Allah agar si hamba tidak lupa dan sombong seandainya ia memiliki harta benda yang akan merusak jiwanya.
 
Dalam hal ini Allah SWT mengingatkan melalui firman-Nya:
      
"(Dan) seandainya saja Allah melapangkan rizki pada  hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi ini  (menghalalkan  segala  cara untuk  meningkatkan  pendapatannya).  Akan tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya (rizki dan  sebagainya)  dengan ukuran (jumlah tertentu). Sesungguhnya  Dia  maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi maha melihat" (QS Asyura: 27)
 
  "Sesungguhnya si hamba itu dapat mencegah rizkinya sendiri dengan dosa  yang  ia  perbuat. Dan tidak dapat  juga  menjauhkan  Qadar kecuali dengan do'a." (HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu majah; lihat "Mu'jam Al Mufahras  Li Alfaadzil Hadits" Jilid II hal. 132)
       
                Begitu  pula musalnya apabila seorang muslim beriman bahwa  Allah SWT  itu  maha perkasa (al-Muntaqim), Maha Agung  (al-Aziz),  Maha Berkuasa  (al-Jabbar), Maha Berhak untuk angkuh  (al-Mutakabbir), Maha Merendahkan (al-Khafidl), Maha Meninggikan (ar-Ra'af),  Maha Kuasa  untuk  memuliakan dan Merendahkan  (al-Muiz,  al-Muzhil), maka si muslim tadi akan bersungguh-sungguh menyadari dan meyakini bahwa segala sesuatu di alam ini tidak akan keluar dari kehendak  'Irodah'  Allah. Dialah (Allah) yang mampu  menundukkan  para penguasa dan diktator yang dzolim. Dia pula yang menjatuhkan kaum muslimin ke dalam cengkraman musuhnya apabila meninggalkan Dienul Islam dan saling berpecah belah membentuk golongan-golongan  yang selalu  saling  berperang.  Dialah  Allah  yang  menjatuhkan  dan menghinakan  suatu kaum akibat perbuatan buruk yang mereka  lakukan.  Dan Dia pula yang mengangkat kaum lainnya  akibat  ketaatan dan usaha mereka untuk mencapai ridlo Allah. Dialah yang memuliakan  orang yang berpegan teguh kepada agama-Nya  (Islam)  sambail memberinya  kesempatan dan perantara untuk memperolah  kemenangan dan kejayaan. Dia pula yang sanggup memberi kehinaan dan kehancuran kepada musuh-musuh Islam serta melenyapkan segala tipu  dayanya,  jika  Allah menghendaki kembalinya Islam  sebagai  kekuatan dunia yang berwibawa dan disegani oleh kekuatan manapun.
      
Seorang  muslim akan yakin terhadap hal-hal tadi  karena  percaya terhadap firman Allah SWT:
       
"(Dan)  Dialah yang maha berkuasa atas  seluruh  hamba-hamba-Nya. Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui"   (QS Al-An'aam: 18).
                           
"Katakanlah: Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepadamu,  dari  atas kamu (angin, hujan, petir), dan dari  bawah  kamu (gempa  bumi,  tanah longsor), atau Dia mencampurkan  kamu  dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan menimpakan kepada sebagian kaum keganasan sebagian yang lainnya"  (QS Al-An'aam: 65)
       
"(Dan)  taatlah  kamu kepada Allah dan Rasul-Nya,  dan  janganlah kamu berbantah-bantahan yang akan menyebabkan kamu menjadi gentar dan kehilangan kekuatan atau kekuasaan"     (QS Al-Anfal:46)
       
 "Katakanlah: Wahai Tuhan yang memiliki (segala) kekuasaan. Engkau berikan  kekuasaan  pada orang yang Engkau kehendaki  dan  Engkau cabut  kekuasaan  bagi  orang yang Engkau  kehendaki  dan  Engkau hinakan orang-orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segalanya"    (QS Ali Imron: 26).
       
       
"Sesungguhnya  Allah pasti menolong orang yang  menolong  (agama) Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha Perkasa."   (QS Al-Haj: 40)
       
                Tidak  diragukan lagi bahwasanya iman semacam inilah yang  menyebabkan  kaum  muslimin tidak mengenal istilah  putus  asa,  tidak gentar penghadapi makar dan tipu muslihat musuh-musuhnya,  walaupun  kekuatan mereka sepuluh kali lipat kekuatan  kaum  muslimin. Hal  ini tidak menggoyahkan jiwanya karena yakin kemenangan  itu berada  di  tangan Allah. Tambahan lagi  Allah  telah  memastikan kemuliaan bagi kaum muslimin dan kehinaan serta adzab bagi orang-orang yang kafir.
 
Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Senin, 28 Maret 11 - 17:09 WIB
Dalam Kategori : PENGETAHUAN, AGAMA
Dibaca sebanyak : 1896 Kali
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback