asra إسراء
 
My Social Network
Daftar Blog Lainnya
Kategori
Alexa Rank

MEMAHAMI HAKEKAT KEBERADAAN MANUSIA DI MUKA BUMI

Muqaddimah
 
Dewasa ini, banyak orang yang tak tahu lagi arah kehidupan yang seharusnya ia tempuh.  Ia melangkah mengarungi kehidupan ini, berbuat, dan bertingkah laku tanpa pedoman dan pijakan yang baku.  Dalam kondisi semacam ini, sese-orang cenderung berbuat sesuai dengan apa yang ia lihat dan saksikan dari orang lain.  Wal hasil, kondisi lingkunganlah yang akhirnya mengendalikan sikap dan tingkah-lakunya. Arus kehidupanlah yang selalu akan menyeretnya ke arah mana ia menuju.
 
Banyak kejadian, dimana seseorang begitu ingin meraih harta/kekayaan sebagaimana yang diraih orang lain. Ada pula orang yang ingin terkenal sebagaimana orang lain terkenal, menjadi bintang film, penyanyi, pengusaha, dll.  Semua itu berangkat dari anggapan bahwa harta, kekayaan, ketenaran, dsb, merupakan tujuan hidup yang hakiki dan merupakan sesuatu yang akan menempatkannya pada derajat dan martabat yang tinggi dan mulia.  Hal itu pulalah yang dianggapnya sebagai sumber kebahagiaan hidup yang sesungguhnya.
 
Pada saat seseorang tidak mampu meraih apa yang diinginkannya, atau tidak mampu menggapai apa yang bisa dan berhasil digapai orang lain; maka akan menimbulkan tekanan batin tersendiri baginya.  Yang terjadi kemudian adalah, muncul pikiran-pikiran untuk menempuh cara-cara apapun demi mengapai apa yang diinginkannya. Terjadilah kemudian tindak kecurangan, penyimpangan, penyalahgunaan wewenang, dll.  Tindakan tersebut bahkan akan dilakukan dengan semakin mantap, disaat ia menyaksikan orang lain juga melakukan hal yang sama.  Muncullah kemudian ucapan :
 
“Sekarang ini jaman ‘edan’, kalau tidak ikut ‘edan’ tidak akan keduman” (Sekarang ini jaman gila, kalau tidak ikut gila tidak akan kebagian).  Akhirnya manusia kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya, dan yang muncul adalah sifat-sifat kebinatangan, dimana yang kuat akan memakan yang lemah. 
 
Dalam kaitan inilah, manusia harus mema-hami hakekat keberadaannya di muka bumi ini;  Yaitu dengan mencari jawaban atas problematika utama/pokok yang dihadapinya.  Problematika utama/pokok tersebut, mencakup tiga pertanyaan mendasar, yaitu :  
 
Dari mana kita ?  Untuk apa hidup di dunia ini ?  Dan akan kemana setelah mati ?
 
Setiap orang harus memiliki jawaban atas  problem utama tersebut, kalau ingin melangkah dengan pasti dalam mengarungi kehidupan ini.  Jika tidak, ia akan seperti orang kebingungan dan mudah terombang-ambing oleh gelombang kehidupan yang tidak menentu.
Selain itu, mencari jawaban yang tepat terhadap pertanyaan tersebut di atas, juga sangat penting.  Sebab apabila jawabannya tidak tepat, otomatis akan menghasilkan sikap dan langkah hidup yang tidak benar. Demikian pula sebaliknya.
 
 
Asal Usul Manusia
 
Ada tiga kemungkinan berkaitan dengan asal usul manusia. Pertama, manusia ada dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan. Kedua, manusia menciptakan dirinya sendiri.  Ketiga, manusia diciptakan oleh Sang Pencipta ?. 
Fakta atas segala sesuatu yang ada di dunia ini --termasuk manusia-- , menunjukkan adanya keteraturan, dan kerapihan yang sempurna.  Dengan mata, manusia bisa melihat berbagai bentuk objek dan warna.  Dengan telinga, bisa mendengar.  Dan dengan akal, bisa berfikir, dll.  Kesemua itu mengandung keteraturan dan kerapihan yang sempurna dari cara kerja dan fungsi organ-organ manusia. Mungkinkah keteraturan dan kerapihan tersebut bisa ada (terwujud) dengan sendirinya, tanpa ada yang membuat dan mengatur ?  Dari sinilah, kemungkinan yang pertama, bahwa manusia ada dengan sendirinya, adalah batal (mustahil) dan tertolak oleh akal.
Selain itu fakta juga menunjukkan, bahwa manusia bersifat lemah, terbatas dan selalu bergantung dengan yang lain. Misalnya, sekedar untuk mempertahankan hidupnya saja, manusia butuh makan, minum, menghirup oksigen, dll.  Ia juga butuh bantuan dan kerja sama dengan orang lain, seperti butuh jasa petani, pedagang, dokter, guru, dll.
Hal ini membuktikan bahwa manusia tidak mungkin bisa menciptakan (mengadakan) diri sendiri.  Jangankan menciptakan dirinya sendiri, mempertahankan hidup bagi dirinya saja, harus bergantung (membutuhkan) yang lain.  Dengan demikian kemungkinan kedua juga tertolak.
Wal hasil satu-satunya kemungkinan yang benar secara aqliyah adalah yang ketiga, yaitu manusia berasal (diciptakan) dari Sang Pencipta, yaitu Allah. 
Jadi di balik alam semesta beserta isinya ini, ada Sang Pencipta,  Dalam hal ini keberadaan Sang Pencipta adalah wajibul wujud dan bersifat Azali (tidak terbatas).
 
 
Untuk Apa Kita Hidup di Dunia Ini ?
 
Karena kita diciptakan, maka sudah tentu kita harus menjalani kehidupan ini sesuai dengan misi penciptaan itu sendiri, yaitu apa yang dinyatakan oleh Allah dalam Al-Quran :
 
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ اِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ
 
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. (Adz-Dzaariyaat : 56)
 
Apa itu ibadah ?. Menurut bahasa, Ibadah berarti “Tha’at”.  Sedangkan menurut istilah, Ibadah punya dua makna.  Pertama, Ibadah dalam arti khusus, yaitu hubungan antara manusia dengan Tuhan-Nya, seperti shalat, zakat, shaum, haji, dan jihad. Kedua, Ibadah dalam arti umum, yaitu menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dalam berbagai aspek kehidupan. 
Wal hasil, yang harus diperbuat manusia dalam kehidupannya di dunia ini adalah Ibadah.
Perlu ditegaskan di sini, bahwa ibadah sesungguhnya bukanlah sekedar aktifitas ritual seperti sholat, shaum, dll. Ini adalah pandangan yang keliru dan membahayakan. Yang tepat, bahwa ibadah adalah seluruh amal perbuatan manusia yang dilakukan sesuai dengan perintah dan larangan Allah.  Amal perbuatan manusia bisa memiliki nilai rohani, nilai manusiawi, nilai akhlaq, atau nilai materi. 
 
Amal Perbuatan yang memiliki nilai rohani misalnya adalah sholat, shaum, zakat, haji, dll.  Yang memiliki nilai manusiawi misalnya adalah, menolong orang kecelakaan, tenggelam, dll.  Yang memiliki nilai akhlaq misalnya adalah jujur, sopan, amanah, dll.  Sedangkan yang memiliki nilai materi misalnya adalah berdagang, berwirausaha, jual-beli, bekerja, dll.
 
Perbuatan-perbuatan tersebut, kesemua merupakan ibadah, jika dan hanya jika dikerjakan sesuai dengan perintah dan larangan Allah. Dengan demikian, apabila seseorang berwira-usaha, atau berdagang dengan cara menipu, berbuat curang, dll, yang notabene menyalahi perintah dan larangan Allah, maka nilainya bukanlah ibadah, melainkan maksiyat.   
 
Dalam kaitan dengan aktifitas mencari nafkah/penghidupan, manusia boleh-boleh saja mencari harta dan kekayaan setinggi-tingginya dengan usaha-usahanya, asalkan dilakukan dengan cara yang benar; dalam arti tidak menyalahi perintah dan larangan Allah.  Jika hal itu dilakukan, maka perbuatan tersebut akan bernilai ibadah.
 
Nampak di sini bahwa aktifitas manusia me-miliki nilai ibadah, justru ditekankan pada segi kesesuaian aktifitas tersebut dengan perintah dan larangan Allah, dan bukan ditekankan pada banyak atau sedikitnya hasil yang diperoleh.  Oleh karena itu, orang yang memahami hakekat keber-adaannya di muka bumi ini --yaitu untuk beribadah kepada Allah--, maka yang ia prioritaskan terlebih dahulu dalam berkarya dan berusaha adalah cara-cara atau langkah-langkahnya;  apakah cara dan langkah tersebut sesuai dengan aturan Allah atau menyalahi aturan-Nya.  Meski hasil yang akan diperoleh sangat besar, namun jika cara mendapatkannya harus dengan menyalahi aturan Allah, tentu akan ia tinggalkan.  Sebaliknya, meski hasilnya tidak terlalu besar, namun jika hal itu diperoleh tanpa harus menyalahi aturan Allah, maka ia akan lakukan. Itu semua dilakukan tentu demi medapatkan nilai ibadah dalam amal perbuatannya, dan demi menggapai keridloan Allah semata.
 
Demikian pula untuk aktivitas keseharian lainnya, dari yang sederhana, seperti makan, minum, berpakaian, dll, hingga yang besar, seperti berpolitik, berekonomi, dll; kesemuanya bisa bernilai ibadah, selama dilakukan sesuai dengan perintah dan larangan Allah.  Jika tidak demikian, maka aktivitas tersebut tidak ada nilainya sama sekali di sisi Allah, dan menjadi amal yang sia-sia. 
 
Allah SWT telah memerintahkan kepada manusia untuk senantiasa melaksanakan apa-apa yang diajarkan/diperintahkan oleh Rasul, dan meninggalkan apa-apa yang di larangnya, sebagaimana firman-Nya :
 
وَمَا آتاَكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا
Apa yang diberikan/diperintahakan Rasul kepadamu maka terimalah/laksanakanlah, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggal-kanlah.  (Al-Hasyr 7)
 
Selain itu Rasulullah SAW juga bersabda :
 
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
 
Siapa saja yang mengerjakan suatu amal perbuatan, yang tak ada perintah kami atasnya, maka perbuatan itu tertolak.  (HR. Muslim)
 
Oleh karena itulah, kita perlu mengkaji dan mendalami Islam, agar bisa melakukan semua gerak langkah dan aktivitas kita, sesuai dengan  aturan-aturan Allah SWT, sehingga senantiasa memiliki nilai ibadah di sisi-Nya.
 
 
Akan Kemana Setelah Mati ?
 
Sudah menjadi kepastian, bahwa manusia tidak akan hidup selamanya di dunia ini. Ia akan mati, dengan meninggalkan segala apa yang dimiliki dan didapatinya selama di dunia.  Kecuali satu yang akan dibawa manusia ketika mati, yaitu amal ibadahnya.
 
Kemanakah manusia setelah mati ?  Ia akan dibangkitkan kembali, untuk menghadap Sang Pencipta, guna mempertanggung-jawabkan seluruh amal perbuatannya selama di dunia.  Adakah ia telah tempuh kehidupan dunia ini sesuai dengan maksud penciptaan dirinya, yaitu untuk beribadah ? Ataukah ia habiskan hidupnya di dunia untuk berbuat maksiyat, dengan melanggar perintah-perintah Allah SWT ?. 
 
Di akhirat kelak, seluruh perbuatan manusia selama di dunia akan dihitung;  berapa banyak amal ibadahnya dan berapa banyak amal kemaksiyatnya.  Perhitungan itulah yang akan menentukan nasib manusia selanjutnya, apakah akan masuk Surga ataukah masuk Neraka.
Perlu disadari bahwa kehidupan akhirat  itulah sesungguhnya kehidupan yang hakiki.  Allah SWT berfirman :
 
قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيْلٌ وَالاْخِرَةُ خَيْرٌ لِّـمَنِ اتَّقَى وَلاَ تُظْلَمُوْنَ فَتِيْلاً
...Katakanlah : “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itulah lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun” (An Nisaa’ 77)
 
 
بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيَوةَ الدُّنْيَا وَالاخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقَى
Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.  Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (Al A’laa 17-18)
 
 
Khatimah
 
Demikianlah, manusia harus memahami dengan jelas dari mana ia, untuk apa hidup di di dunia ini, dan akan kemana setelah mati ?.  Tanpa memahami hal tersebut, manusia akan melangkah dengan penuh ketidak-pastian, terombang-ambing dengan keadaan lingkungan-nya, dan cenderung terbawa arus kehidupan yang ada.        

Akibatnya ia tidak akan dapat meman-faatkan kesempatan hidupnya di dunia yang hanya satu kali ini, untuk berbuat sesuai dengan misi penciptaan manusia yang sesungguhnya. Sehingga ia tidak dapat mempertanggung-jawabkan amal perbuatannya selama di dunia, yang akan menentukan bahagia atau celakanya dalam kehidupan di akhirat.

Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Jumat, 25 Maret 11 - 13:02 WIB
Dalam Kategori : PENGETAHUAN, AGAMA
Dibaca sebanyak : 2380 Kali
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback