asra إسراء
 
My Social Network
Daftar Blog Lainnya
Kategori
Alexa Rank

Menggapai Keimanan yang Hakiki

Manusia sebagai makhluk yang serba terbatas (Relativismus uber alles), suka ataupun tidak, memerlukan tempat bergantung yang sejatinya berkedudukan Mahamutlak (Absolutivismus uber alles). Hal ini terkait dengan keyakinan agama. Dengan agama (apa pun definisi orang tentang agama), manusia diajak mengarungi, sekaligus merenungi, sisi-sisi terdalam kemanusiaannya untuk menyempurnakan dirinya. Manusia akan selalu berupaya menuju Realitas Tertinggi (The Ultimate Reality). Kewajiban manusia adalah melakukan perjalanan dari kedudukannya sebagai makhluk menuju kepada Realitas  Tertinggi itu (rihlah min al-khalq ilâ al-Haqq).
                Dalam konteks di atas, sejarah manusia sesungguhnya tidak pernah sunyi dari para pencari Tuhan. Dengan dorongan religiositas dan juga spiritualitas, umat manusia selalu melakukan pencarian demi pencarian Tuhan Yang Sebenarnya. Bagi sebagian orang, agama memang menjadi jawaban. Namun demikian, sejak ratusan atau bahkan ribuan tahun silam, jauh sebelum tampilnya agama-agama formal (di luar Islam) ke permukaan, dunia telah diramaikan oleh para filosof yang selalu terlibat dalam diskursus ketuhanan (teologi); bahkan dalam wacana tentang asal-usul alam semesta (ontologi) dan ilmu pengetahuan (epistemologi). Sebagian dari mereka benar-benar “menemukan” Tuhan. Akan tetapi, sebagian lainnya terlena dalam “igauan” yang tak jelas ketika mencoba memaksakan diri menjangkau esensi Tuhan yang sesungguhnya. Mereka terlalu jauh mengembara di belantara metafisisme, sehingga tak sedikit yang masuk ke dalam perangkap skeptisisme, dan bahkan ateisme.
                Sementara itu, di kalangan sebagian kaum Muslim saat ini, keyakinan terhadap Allah masih saja dibungkus oleh hal-hal yang dogmatis dan irasional, ataupun hanya merupakan produk warisan turun-temurun. Kondisi ini sering menimbulkan sinkretisme dan eklektisisme dalam pemikiran keagamaan, yang lebih jauh hanya akan melahirkan individu Muslim yang secara geneologis Islam (Muslim KTP), tetapi dari segi perilaku keseharian malah mengaburkan ajaran Islam. Paling banter, sebagai Muslim, mereka hanya menampilkan kesalihan simbolik dan artifisial. Sebab, di sini, kesalihan tidak lagi diukur oleh kerangka yang lebih substansial, yaitu syariat Islam sebagai sebuah totalitas.
                Dalam konteks Islam, sikap keberagamaan demikian tentu saja kontraproduktif, sekaligus kontradiktif, dengan semangat Alquran yang selalu memerintahkan manusia untuk mendasarkankeimanannya pada rasio (‘aql) dalam makna yang sesungguhnya; bukan sebatas dorongan intuisi keberagamaan an sich, sebagai representasi dari religiositas (gharîzah at-tadayyun) yang ada pada dirinya. Apalagi jika keimanannya hanyalah produk dari prasangka-prasangka teologis belaka. Sebab keimanan (akidah) itu itu sendiri, dalam Islam, sejatinya adalah “pembenaran yang pasti (tanpa ada keraguan sedikit pun), yang sesuai dengan realitas (bukan ide khayalan) yang didasarkan pada adanya bukti/dalil (baik dalil aqlî maupun naqlî).”
                Oleh karena itu, hanya dengan menggabungkan keduanya, yakni religiositas (fitrah keberagamaan) dan rasionalitas (pemikiran) — yang tentu saja harus berupa pemikiran yang tercerahkan (al-fikr al-mustanîr) — keimanan yang hakiki dan kokoh dapat diraih oleh seorang Muslim. Dalam konteks ini pula, upaya-upaya manusia untuk meretas “Jalan Keimanan” (Tharîq al-Imân) yang dikomandani rasio (‘aql) akan selalu menemukan relevansi dan signifikansinya.
               
“Pandangan Dunia” Manusia
 
                Perjalanan manusia di dalam realitas kehidupan ini akan selalu dikendalikan oleh suatu “pandangan dunia” (weltanchauung) yang diyakininya. Pandangan dunia manusia pada prinsipnya akan selalu terkait dengan tiga simpul besar (‘uqdah al-qubrâ) yang beribu-ribu tahun silam dicoba dipecahkan oleh manusia. Simpul besar itu secara ringkas terkait dengan pertanyaan: (1) Darimana manusia berasal ?; (2) Untuk apa manusia hidup ?; dan (3) Akan ke mana manusia setelah mati ?
                Selintas, ketiga pertanyaan tersebut terkesan sangat sederhana. Akan tetapi, upaya pencarian jawaban dari ketiganya ternyata telah menguras tenaga dan pikiran banyak cendekiawan, filosof, ataupun ulama sejak lama. Mereka — baik hanya dengan mengandalkan kapasitas intelektual maupun spiritualnya, ataupun dengan melandaskannya pada “wahyu” dari Tuhan — telah berhasil memberikan jawaban atas ketiga persoalan mendasar itu; terlepas dari benar-tidaknya jawaban tersebut. Jawaban itulah yang sebetulnya menjadi “pandangan dunia” manusia, yang menjadi landasan (rel) bagi dirinya dalam menempuh perjalanan kehidupannya, dan sekaligus menjadi lokomotif yang menarik “gerbong” yang bernama manusia ke arah mana saja yang dia kehendaki. 
                Secara sederhana, ada tiga gagasan (idea) besar manusia yang memberikan jawaban yang berbeda terhadap ketiga pertanyaan di atas.
                Pertama, ide yang meyakini bahwa kehidupan dunia ini ada dengan sendirinya (serba kebetulan), dan bukan diciptakan dari ketiadaan (creatio ex nihillo). Manusia berasal dari materi dan akan kembali menjadi materi. Mereka tidak meyakini samasekali adanya Sang Pencipta. Tuhan, menurut mereka, hanya ilusi yang tidak layak dipercaya. Dengan menafikan eksistensi Tuhan, otomatis materi dianggap sebagai sesuatu yang azali. Oleh karena itu, tujuan utama manusia hidup pun mesti diorientasikan demi mencari kebahagiaan/kepuasan material di dunia ini. Dalam alam modern, pemahaman demikian direpresentasikan oleh mazhab sosialisme-komunis.
                Kedua, ide yang meyakini bahwa seluruh kehidupan di dunia ini berasal (diciptakan) oleh Zat Yang Mahamutlak (Tuhan). Akan tetapi, Tuhan tak lebih dari sekadar “Pembuat Jam”. Ia hanya bertugas mencipta, tidak punya orotitas untuk mengatur dan mengendalikan dunia. Manusialah yang memiliki otoritas penuh untuk mengatur dunia dan dirinya sendiri. Di sini, manusia diposisikan sebagai “pusat”, sehingga segala sesuatu mesti dikembalikan pada kehendak manusia (antropomorfisme). Agama, dengan demikian, hanya mengisi salah satu ruang kosong yang ada pada batin manusia. Penganut ide ini berkeyakinan bahwa tujuan utama hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan yang sepuas-puasnya di dunia (hedonisme). Mereka memang meyakini bahwa manusia akan kembali ke alam akhirat (kepada Tuhan). Akan tetapi, dimensi duniawi dan ukhrawi seolah tidak saling berhubungan. Pemahaman demikian, di alam modern ini direpresentasikan dengan baik oleh penganut mazhab kapitalisme-sekuler. 
                Ketiga, ide yang meyakini sepenuhnya Tuhan sebagai Sumber dari segala sesuatu (Causa Prima). Manusia diciptakan oleh Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Oleh karena itu, Tuhanlah Yang Azali, sementara selain Tuhan adalah fana (profan). Tuhan juga memiliki otoritas penuh untuk mengatur dunia ini. Manusia hanyalah pelaksana dari aturan-aturan yang telah ditetapkan Tuhan bagi dunia ini. Dengan demikian, di dunia ini tujuan utama hidup manusia harus diorientasikan semata-mata demi mengabdi (ibadah) kepada Tuhan. Bahkan, ibadah merupakan raison d’etre (hakikat terpenting) dari keberadaan manusia sebagai makhluk di hadapan Tuhan sebagai Al-Khâliq. Ketaatan atau pengingkaran terhadap kehendak Tuhan di dunia diyakini akan mendapatkan konsekuensi di akhirat (di samping di dunia ini). Dengan demikian, ada keterkaitan erat antara alam dunia dan alam akhirat. Pemahaman seperti ini bersumber sepenuhnya dari konsep teologis Islam sebagai satu-satunya agama otentik — baik di masa lalu maupun di masa kini — yang bersumber dari Tuhan Yang Sebenarnya, yakni Allah swt.
                Dari ketiga gagasan besar yang berbeda yang diberikan oleh masing-masing kelompok manusia di atas, kita akan melihat aturan-aturan hidup yang berbeda, yang merupakan derivasi (turunan) dari ketiga gagasan itu. Aturan-aturan itu secara niscaya akan menciptakan pola hidup (way of life) yang berbeda pula dari ketiga kelompok masyarakat penganut ketiga gagasan besar tersebut. Ringkasnya, kita akan menyaksikan perbedaan mendasar dari masing-masing kelompok masyarakat yang menganut cara hidup sosialis-komunis, kapitalis-sekuler, dan Islam.
               
Dari Mana Memulai?
 
                Pertanyaan di atas penting diajukan ketika kita hendak mengawali upaya meretas “Jalan Keimanan” (Tharîq al-Imân), sehingga kita dapat sampai pada konsepsi keimanan (akidah) yang sahih. Di sini, hal yang pertama kali harus dilakukan adalah memahami bahwa konsepsi akidah akan senantiasa terkait dengan unsur-unsur yang berada dalam jangkauan akal manusia. Ketiga unsur tersebut adalah: manusia (al-insân), kehidupan (al-hayâh), dan alam semesta (al-kawn). Selama ini, hanya ketiga unsur itulah yang berada dalam wilayah jangkauan rasio manusia; di samping bahwa ketiganya akan memudahkan kita  untuk memahami konsepsi manusia yang hidup di alam semesta dalam kaitannya dengan upaya memecahkan ‘uqdah al-kubrâ. Ringkasnya ‘uqdah al-kubrâ tidak akan terpecahkan sebelum kita memahami secara benar ketiga unsur di atas dan keterkaitannya dengan kehidupan sebelum alam dunia dan sesudahnya.
                Dalam konteks di atas, Islam memberikan sebuah jawaban yang sahih, integral, dan tuntas; yakni bahwa di balik realitas manusia, kehidupan, dan alam semesta ini ada Sang Pencipta (Al-Khâliq). Dialah Yang mengadakan sesuatu dari ketiadaannya (creatio ex nihillo). Bukti bahwa segala sesuatu itu meniscayakan adanya Sang Pencipta dapat diterangkan sebagai berikut:
                Eksistensi semua yang terindera pada dasarnya terdiri dari unsur manusia, kehidupan, dan alam semesta. Ketiga unsur tersebut bersifat terbatas, serba kurang, dan tidak berdiri sendiri. Manusia terbatas karena hidupnya tidak pernah tidak bergantung/membutuhkan yang lain. Ia tumbuh dan berkembang tidak atas kemampuannya sendiri. Bahkan, dari ketiadaannya menjadi ada, lantas  kembali menjadi tidak ada (mati) — yang semua itu bukan kehendak dirinya — telah cukup menjadi dalil bahwa ada sesuatu yang berperan di luar dirinya. Sementara fenomena kehidupan yang kita saksikan juga terbatas. Ia bersifat individual dan tidak bisa melampaui titik yang telah ditentukan oleh Sang Pemilik kehidupan (Allah). Secara empirik, kehidupan selalu berhenti pada satu individu makhluk. Reinkarnasi, yang diyakini oleh sementara orang, dengan demikian hanyalah sebuah fantasi. Sedangkan alam semesta, juga demikian adanya. Ia terdiri dari kumpulan benda-benda material yang juga terbatas. Matahari tidak pernah mampu menyinari seluruh permukaan bumi dalam satu saat yang sama; bulan bahkan tidak memiliki cahayanya sendiri; bumi apalagi, ia bahkan bergantung pada keduanya. Itu hanyalah sekelumit contoh saja dari keserbaterbatasan alam semesta.
                Dengan demikian, jelas bahwa ketiga unsur di atas adalah terbatas, dan karenanya tidak azali. Karena sifatnya yang tidak azali, ketiganya pasti bergantung pada Zat Yang Azali; Zat Yang tidak terbatas. Dengan kata lain, semua itu pasti ada Penciptanya.
                Oleh karena itu, sampai detik ini kita tidak bisa memahami fantasi Nietsze yang dengan lantang berteriak, “God is dead! (Tuhan telah mati)”; atau igauan  Karl Marx yang dengan penuh percaya diri menyatakan, “Agama adalah candu!”
 
Batas Akal dalam Memahami Al-Khâliq
 
                Agar tidak terjebak pada rasionalisme ekstrim ataupun pemikiran filosofis yang menipu, seorang Muslim selayaknya memahami bahwa meskipun manusia wajib menggunakan rasio (akal)-nya dalam mengimani Tuhan (Allah), tetapi akal manusia memiliki keterbatasan. Untuk itu, memahami hakikat akal adalah penting bagi seorang Muslim.
                Dalam makna generiknya, akal (al-‘aql) adalah sama dengan persepsi (al-idrâk) ataupun nalar (al-fikr). Namun demikian, secara etimologis, dalam Alquran, kata akal (termasuk kedua kata di atas) tidak pernah ditemukan sebagai sebuah kata benda (al-ism). Ia selalu berbentuk kata kerja (fi‘l). Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa kata tersebut lebih merujuk pada sebuah aktivitas, yakni berpikir. Sementara secara terminologis, pengertian rasio/akal (al-‘aql, al-fikr, al-idrâk) yang sangat representatif dan faktual — di antara berbagai definisi yang ada — secara cerdas dan menarik diungkapkan oleh Syaikh Taqyuddî an-Nabhâni. Beliau mendefinisikan rasio/akal sebagai “Naql al-wâqi‘ ilâ ad-dimâgh bi wâsithah al-hawâs ma‘a ma‘lumât as-sâbiqah” (Proses transformasi fakta ke dalam otak dengan melibatkan indera dan memprasyaratkan adanya informasi awal). Dengan demikian proses berpikir hanya akan berjalan dengan melibatkan empat komponen: (1) fakta; (2) otak; (3) indera; (4) informasi awal.
                Dari definisi di atas, kita bisa melihat bahwa fakta yang terindera menjadi salah satu basis akal. Oleh karena itu, akal mustahil bisa menjangkau hal-hal yang non-inderawi, metafisis, metaempiris, ataupun dunia di balik realitas (al-mâwarâ’iyyah). Oleh karena itu pula, rasio manusia (betapa pun jeniusnya) hanya mampu memahami eksistensi Sang Pencipta, dan mustahil dapat menjangkau esensi-Nya. Sebab, eksistensi Sang Pencipta bisa dipahami melalui realitas yang dapat diindera, sementara esensi (Zat)-Nya ada di balik realitas (non-inderawi).
                Dalam kaitannya dengan persoalan di atas, adalah menarik jika kita mentadaburi Alquran yang ditaburi oleh sejumlah besar ayat yang mengajak manusia untuk memperhatikan dirinya, kehidupan, dan alam semesta ini — yang semuanya merupakan sesuatu yang real dan inderawi. Tentang ketiganya Allah swt. antara lain  berfirman:
 
Kami benar-benar memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Alquran itu benar.(QS 41: 53).
 
Apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi serta semua yang telah Allah ciptakan?(QS 7: 185).
 
Tidakkah manusia itu berpikir bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sementara (sebelumnya) tidak ada samasekali?(QS 19: 67)
Di bumi ini terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin; juga pada diri kalian sendiri. Lalu mengapa kalian tidak memperhatikan? (QS 51: 20-21).
 
                Sebaliknya, Alquran maupun Hadis Nabi melarang kita untuk memikirkan (bahkan mempertanyakan) hal-hal yang metafisis (non-inderawi). Dalam salah satu surahnya, misalnya, Allah berfirman:
 
Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh (nyawa). Katakanlah, “Ruh itu adalah bagian dari urusan-Ku; tidaklah kalian diberi ilmu pengetahun kecuali sangat sedikit.”(QS 17: 85).
 
                Sementara di dalam suatu hadisnya, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Berpikirlah kalian tentang makhluk; jangan kalian berpikir tentang Al-Khâliq.” (H.R. Abû Nu‘aym dalam Al-Hidâyah. Hadis ini marfû‘; sanadnya dha‘îf, tetapi matan (isi)-nya sahih).
 
Bagaimana Memahami Eksistensi Sang Pencipta (Al-Khâliq)?
 
                Secara rasional (aqliyyah), ada tiga kemungkinan di dalam memahami eksistensi — bukan esensi — Sang Pencipta (Al-Khâliq). (1) Dia diciptakan oleh yang lain. (2) Dia menciptakan Diri-Nya sendiri. (3) Dia bersifat Azali (Wâjib al-Wujûd).
                Dengan menggunakan logika sederhana, kita bisa memahami bahwa kemungkinan pertama sepenuhnya batil dan irasional. Kemungkinan pertama hanya terjadi pada makhluk, tidak mungkin terjadi pada Al-Khâliq. Kemungkinan kedua juga batil dan tidak masuk akal. Rasio kita tidak akan memahami bahwa Tuhan adalah Al-Khâliq dan sekaligus makhluk pada saat yang bersamaan. Dengan demikian, kemungkinan ketigalah yang sahih, yakni bahwa Al-Khâliq, pastilah bersifat Azali; tidak berawal dan tidak berakhir. Dia adalah Wâjib al-Wujûd (Eksistensi Yang Mutlak). Sebab, jika tidak demikian, berarti Dia tidak pantas menjadi Al-Khâliq; Dia tidak ada bedanya dengan makhluk. Pernyataan-pernyataan di atas, bagi mereka yang berpikir jernih, pastilah merupakan sebuah aksioma, sehingga siapa pun akan menerimanya secara taken for granted (apa adanya).
 
Kebutuhan Manusia Terhadap Rasul
 
                Setelah keimanan kita kepada eksistensi Al-Khâliq, rasio (akal) kita juga secara aksiomatis memahami bahwa manusia pastilah butuh terhadap nabi/rasul. Proposisi ini bisa dipahami dengan dua alasan:
                Pertama, religiositas — dan juga spiritualitas — (gharîzah at-tadayyun) adalah sesuatu yang paling primordial (fitri) ada pada diri manusia. Religiositas akan selalu mendorong manusia untuk melakukan pemujaan (taqdîs) ataupun penyembahan (ibadah) — apa pun bentuk real-nya — terhadap sesuatu. Religiositas tentu saja perlu dituntun dan diarahkan, sehingga ia hanya akan mendorong manusia kepada penyembahan Tuhan Yang Sebenarnya, dengan aturan-aturan tertentu yang bersumber dari Tuhan itu sendiri. Arahan dan aturan itu tidak boleh datang dari manusia, karena ia sendiri tidak berdaya dalam memahami hakikat Tuhan. Jika manusia tetap dibiarkan melakukan praktik penyembahan dengan kehendak dan tata-caranya sendiri, yang akan terjadi adalah distorsi penyembahan (ibadah) — yang seharusnya diarahkan kepada Tuhan Yang Sebenarnya (Al-Haqq), beralih kepada sesama makhluk. Dari perspektif ini, munculnya paganisme jahiliah di masa lalu, misalnya, adalah fenomena yang tidak bisa dihindari, sebagai akibat diserahkannya otoritas penyembahan kepada manusia.
                Oleh karena itu, mau tidak mau, arahan dan tata-cara penyembahan mestilah datang dari Tuhan itu sendiri. Oleh karena itu pula, mau tidak mau, manusia membutuhkan adanya nabi/rasul yang berfungsi untuk menyampaikan risalah-risalah-Nya kepada manusia.
                Kedua, secara apriori kita bisa mengatakan, bahwa manusia — di samping memiliki fitrah keberagamaan — memiliki tuntutan-tuntutan dalam dirinya yang harus dipenuhi. Tuntutan-tuntutan tersebut muncul baik karena adanya dorongan dari dalam (kebutuhan jasmani, hâjah al‘udhawiyyah) maupun akibat dari respons terhadap faktor luar (kebutuhan naluriah, gharâ’iz). Manusia misalnya perlu makan-minum, menyalurkan hasrat seksualnya-melestarikan keturunannya, dan mempertahankan eksistensi dirinya. Semua itu mesti dipenuhi, karena jika tidak, yang muncul adalah ketidakseimbangan dan kegelisahan hidup; bahkan bisa menjurus pada kematian (jika itu menyangkut kebutuhan jasmani).
                Namun demikian, aturan atau tata-cara pemenuhan terhadap tuntutan-tuntutan yang ada pada diri manusia, juga tidak boleh datang dari manusia sendiri. Sebab, jika sepenuhnya diserahkan pada manusia, yang akan terjadi adalah kekacauan; selain akan menimbulkan persaingan dan pertentangan di antara sesama manusia sendiri, juga akan menjerumuskan pada perilaku-perilaku yang destruktif, yang bahkan tidak pernah terjadi dalam dunia binatang. Perilaku mengumpulkan harta-kekayaan secara ilegal yang bisa merugikan pihak lain,  pelacuran, dan homoseksualitas, hanyalah sedikit saja contoh dari perilaku destruktif akibat manusia mengatur dirinya sendiri.
                Oleh karena itu, aturan-aturan atau tata-cara pemenuhan tuntutan-tuntutan di atas mesti datang dari Tuhan. Sebab, Tuhanlah yang paling mengetahui hakikat manusia. Oleh karena itu pula, manusia memerlukan contoh/teladan bagaimana dirinya memenuhi tuntutan-tuntutan di atas. Sampai di sini, rasionalitas akal kita akan membenarkan bahwa manusia memang membutuhan adanya nabi/rasul, sebagai representasi dari pelaksanaan aturan-aturan Tuhan dalam mengatur pemenuhan atas tuntutan-truntutan yang ada pada diri manusia.
 
Bukti Kebenaran Alquran
 
                Keberadaan risalah yang dibawa oleh nabi/rasul tentu saja perlu diuji, sebab tidak sedikit manusia yang mengklaim dirinya nabi atau utusan Tuhan (nabi/rasul gadungan), mengklaim pula bahwa dirinya telah mendapatkan wahyu. 
                Sebagai umat Nabi Muhammad saw., kita tentu saja berhak untuk menguji kebenaran risalah yang dibawa oleh beliau, yakni Alquran. Oleh karena Alquran secara faktual berbahasa Arab, maka ada tiga kemungkinan untuk menguji kebenaran Alquran bahwa ia memang benar-benar risalah yang langsung bersumber dari Allah. (1) Alquran adalah karangan bangsa Arab. (2) Alquran adalah karangan Nabi Muhammad, karena beliaulah yang membawanya. (3) Alquran adalah benar-benar firman Allah sebagai risalah yang langsung diberikan kepada pembawanya.
                Kemungkinan pertama secara teologis terbantahkan. Sebab, Alquran sendiri dalam sejumlah ayatnya telah menantang orang-orang Arab untuk membuat karya yang serupa dengan Alquran, walaupun hanya satu surah saja. Secara historis, sejak Alquran pertama kali turun hingga detik ini, tantangan tersebut terbukti tidak pernah terjawab; tak ada seorang Arab pun yang mampu melakukannya.
                Kemungkinan kedua secara historis maupun didasarkan pada realitas empiris juga tidak terbukti. Sebab, Muhammad adalah bagian dari komunitas bangsa Arab juga. Betapa pun jeniusnya, ia tetaplah orang Arab, apalagi ia adalah seorang yang ummi. Oleh karena itu, hal yang rasional jika Muhammad tidaklah mungkin merupakan orang yang membuat Alquran.
                Selain itu, kita mengetahui bahwa, di samping menyampaikan risalah Allah berupa Alquran, pada saat yang bersamaan Nabi Muhammad juga mengeluarkan banyak hadis, yang sebagiannya — sebagaimana halnya Alquran — malah diriwayatkan secara mutawâtir. Akan tetapi, para pakar linguistik Arab maupun para sastrawan Arab, dengan mudah menemukan bahwa secara struktural maupun gaya penuturan, Alquran berbeda jauh dengan Hadis-hadis Nabi. Sementara tuduhan orang-orang kafir bahwa Alquran tidak lebih merupakan sesuatu yang disadur oleh Nabi Muhammad dari seorang pemuda Nasrani yang bernama Jabr, juga dibantah langsung oleh Alquran sendiri.          
Bukti-bukti empiris di atas sekaligus menafikan anggapan bahwa Alquran merupakan karya Nabi Muhammad, dan sekaligus menegaskan bahwa Muhammad betul-betul seorang nabi dan rasul Allah.
                Jika demikian realitasnya, berarti hanya kemungkinan ketigalah yang benar-benar valid dan bisa dipertanggung-jawabkan secara rasional, yakni bahwa Alquran memang merupakan firman Allah yang disampaikan langsung oleh Diri-Nya kepada Nabi Muhammad saw. Tidak ada kemungkinan lain di luar itu dilihat dari perspektif empiris bahwa Alquran itu berbahasa Arab. Kemungkinan di luar itu tak lebih merupakan ilusi atau fantasi belaka. Hal itu hanya mungkin dilakukan oleh orang yang memang tidak mau berpikir, atau memang orang yang tidak punya pikiran.
 
Konsekuensi Keimanan kepada Allah, Rasulullah, dan Alquran
 
                Dari uraian di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa keimanan terhadap eksistensi Al-Khâliq (Allah), kebutuhan manusia akan nabi/rasul, dan juga kebenaran risalah-Nya (dalam hal ini Alquran), adalah bisa dibuktikan secara aqliyyah (rasional). Dengan itu, siapa pun orangnya, selama ia memiliki akal (berapa pun kadar intelektualitasnya), pasti dapat memahami realitas ini dengan mudah.
                Sebagai seorang Muslim, langkah selanjutnya setelah kita menempuh langkah-langkah pembuktian (reasioning) di atas, adalah meyakini sepenuhnya informasi-informasi tentang hal-hal yang metafisis (gaib) — yang termasuk ke dalam Rukun Iman (Arkân al-Imân) — yang diberitakan oleh Alquran dan juga Hadis-hadis yang dikemukakan oleh Rasulullah Muhammad saw.
                Alquran dan hadis, misalnya, menginformasikan bahwa Tuhan yang telah kita buktikan eksistensinya oleh rasio kita adalah Allah; bukan Yahweh, Yesus, ataupun dewa-dewa yang ada dalam mitologi Hindu/Budha. Allahlah yang wajib disembah, bukan yang lain.
                Alquran dan hadis menginformasikan bahwa malaikat itu benar-benar ada; bahwa ada para nabi/rasul yang sebelum Nabi Muhammad saw.; dan bahwa ada kitab-kitab lain yang turun jauh sebelum Alquran.
                Alquran dan hadis juga menginformasikan  bahwa terjadinya hari kiamat adalah suatu keniscayaan, sama halnya dengan keniscayaan bakal adanya hari kebangkitan dan hari perhitungan; adanya surga dan neraka; adanya makhluk yang bernama jin, dan lain-lain yang memang diterangkan secara qath‘î (tegas).         Di luar itu, Alquran dan hadis banyak menuntut umat manusia untuk melaksanakan seluruh taklif (perintah dan larangan) yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Semua taklif tersebut mesti direalisasikan seluruhnya oleh umat manusia. Pengingkaran terhadap sebagian taklif, apalagi keseluruhannya, hanya merupakan pengingkaran dan pembangkangan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Dengan kata lain, seluruh informasi dan taklif yang terdapat di dalam Alquran dan As-Sunnah, bukan saja harus diyakini, tetapi yang lebih penting adalah direalisasikan dan diimplementasikan dalam kehidupan umat manusia.
                Dengan semua itu, Islam berarti telah memberikan jawaban yang benar-benar memuaskan akal, menenteramkan, jiwa, dan sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Dari konsepsi (fikrah) seperti itulah Islam kemudian menderivasikan aturan-aturan dan tata-cara hidup (tharîqah) sebagai solusi atas seluruh problem yang dihadapi manusia di dalam kehidupannya. Dengan demikian, Islam sesungguhnya bukan sekadar keyakinan spiritual (‘aqîdah rûhiyyah) semata, tetapi sekaligus merupakan akidah politik (‘aqîdah siyâsiyyah) Dengan kata lain, Islam adalah sebuah “ideologi” (mabda’).

                Akhirulkalam, dengan semua itu pula, kita berharap kepada Zat Yang Mahatinggi, Allah ‘Azza wa Jalla, mudah-mudahan kita benar-benar bisa menggapai keimanan dalam arti yang sesungguhnya (hakiki). Wa mâ tawfiqî illâ billâh.Wallâhu a‘lam bish-shawâb.

Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Jumat, 25 Maret 11 - 17:00 WIB
Dalam Kategori : PENGETAHUAN, AGAMA
Dibaca sebanyak : 1631 Kali
Rating : 1 Bagus, 0 Jelek
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback