asra إسراء
 
My Social Network
Daftar Blog Lainnya
Kategori
Alexa Rank

PERGERAKAN UMMAT ISLAM DALAM SEJARAH INDONESIA

Sesuai tujuannya, bab ini  menyajikan  dinamika pergerakan politik umat Islam dalam pentas sejarah (tarikh) Indonesia dalam bentuk kilasan penting dari abad ke-14 hingga 18, 19, dan 20.
 
Beberapa Catatan dari Tarikh Indonesia (Abad Ke-14 – 18)
 
1389 – 1520
Kemunduran Majapahit; berkembangnya Malaka (Islam).
1477 - 1488
Era Sultan Alauddin Syah - puncak kebesaran Malaka (juga sebagian Sumatra).
1500 – 1546
Timbul dan berkembangnya Kesultanan Demak (menguasai seluruh jawa dan sebagian besar kepulauan di luar Jawa).
1512
Ekspedisi Demak ke Malaka, menggempur Portugis, tapi gagal.
1525
Sunda Kelapa diberi nama Jayakarta oleh Fatahillah (22 Juni)
1568 – 1586
Timbul dan berkembangnya Kesultanan Pajang di Jawa.
1575 – 1601
Pemerintahan Panembahan Senopati (Mataram) di Jawa Tengah dan Timur.
1596
Datangnya Belanda (Houtman dan Keyzer)
1602
Pendirian kongsi dagang Belanda – Vereinigte Ost-indische Companie (VOC).
1607 – 1641
Zaman kebesaran Aceh (seluruh Sumatra dan Malaya).
1613 – 1645
Era Sultan Agung Mataram (seluruh Jawa dan Madura).
1628 – 1629
Mataram mengepung Batavia.
1629
Iskandar Muda (Aceh) merebut kota Malaka dari Portugis.
1672 – 1680
Trunojoyo (Madura) memerangi Mataram yang dibantu VOC.
1686 – 1708
Perang merebut tahta.  Pangeran Puger diakui VOC sebagai Paku Buwono I dan bukan Sunan Mas anak Amangkurat II.
1718 – 1723
Perlawanan menentang Belanda di Surabaya dan Madura (Untung Suropati).
1749 –1757
Pembagian Mataram setelah wafatnya Paku Buwono II (sebelum wafat dia serahkan seluruh Mataram kepada VOC)
1750 –1751
Perlawanan Banten dipatahkan VOC; Lampung diserahkan.
1755
(13 Peb)
Perjanjian Gianti: Mataram dibagi menjadi Surakarta (Sunan Paku Buwono III) dan Yogyakarta (Hamengku Buwono I).
1757
(17 Mar)
Mas Said tunduk kepada Sunan Paku Buwono III, mendapat sebagian wilayah dengan gelar Mangkunegoro.
1799
(31 Des)
VOC dibubarkan.  Per 1 Januari 1800 Belanda mengangkat Gubernur Jenderal untuk mewakili Raja Belanda memerintah seluruh wilayah Nusantara.
 
 
Beberapa Catatan dari Tarikh Indonesia (Abad Ke-19)
 
1811 –1816
Pemerintahan sementara Inggris (Raffles) – setelah Belanda yang ditaklukkan Perancis, dan Perancis dikalahkan oleh Inggris. Paku Alaman dibentuk.
1821 –1845
Perang di Sumatra Barat (Tuanku Imam Bonjol).  Para ulama menentang adat yang bertentangan dengan syara’.  Pemuka adat minta bantuan Belanda.
1825 –1830
Perang Jawa (Pangeran Diponegoro).  Diponegoro dibuang ke Makassar.
1873 –1903
Perang Aceh (Teuku Umar, Teungku Cik Di Tiro, Cut Nya’ Dien).
1900 – 1905
Perang Kalimantan Selatan (Pangeran Antasari)
 
Clifford Geertz dalam bukunyaIslam Observed: Religious Development in Marocco and Indonesia mencatat empat kali pemberontakan santri melawan imperalis Belanda pada Abad ke-19 ini:
Pertama, di Sumatera Barat (1821 –1828). Dalam hal ini Geertz tidak menamakan pemberontakan itu sebagai Perang Paderi.  Hanya disebutkan timbulnya pemberontakan sebagai akibat para ulama menentang adat.  Pemberontakan ini diakhiri setelah Belanda melakukan invasi militer.  Selain perbedaan penamaan, ada juga perbedaan masa pemberontakan tersebut.
Kedua, di Jawa Tengah (1826 –1830). Geertz tidak menyebut nama Diponegoro, hanya menjelaskan pemberontakaan ini timbul sebagai akibat tumbuhnya gerakan Mahdi yang melancarkan perang sabil terhadap imperalis Bealnda dan antek-anteknya.
Ketiga, di barat laut Jawa pada 1840 dan 1880.  Di sini tidak disebut nama daerah dan tokoh pemimpin pemberontakan tersebut. Sebenarnya pemberontakan ini adalah respon umat Islam Banten atas “Tanam Paksa” yang diperintahkan Belanda. Pemberontakan pun berulang pada tahun 1834, 1836, 1842, 1849, 1880 dan 1888.
Keempat, di Aceh (1873 – 1903).  Di sini hanya disebutkan bahwa pemberontakan ini berhasil mengacaukan imperialis Belanda selama 30 tahun.
 
Beberapa Catatan dari Tarikh Indonesia (Abad Ke-20) :
Pergerakan Sosial, Dakwah dan Pendidikan
 
1900
Jauh sebelum tahun 1900 sudah berjalan lama pengajian Surau Jembatan Besi Padang Panjang di bawah asuhan Syaikh ‘Abdullah. Dari bibit ini kemudian tumbuhlah Sumatra Thawalib di Padang Panjang yang kemudian menjadi pusat pertumbuhan ulama dan Zuama Islam yang kemudian bertebaran di seluruh Indonesia.  Disamping Syekh Abdullah para pemimpin lain gerakan Sumatera Thawalid antara lain: Syaikh Daud Rasyidi (ayah H.M.D. Dt. Palimo Kayo), Syaikh A. Lathif Rasyidi (ayah H. Muchtar Luthfi), Syaikh H.A. Karim Amrullah (ayah Hamka), Tuanku Muda Abdul Hamid Hakim, Zainuddin Labay el Junusi, Syaikh Ibrahim Musa Parabek dan lain-lainnya.
1905
16 Oktober 1905, Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI).  (Budi Utomo, yang tanggal kelahirannya dianggap sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sebenarnya didirikan tiga tahun setelahnya, yaitu 20 Mei 1908).  Pada tahun 1905 resmi berdiri pula al-Jam’iatu aI-Khairiyah.
1911
SDI. diubah namanya menjadi Sarekat Islam (SI).
1912
Kiai Haji Ahmad Dahlan, salah seorang alumnus al-Jam’iyatu al-Khairiyah, mendirikan Muhammadiyah pada 12 November 1912.  Dasar gerakannya ialah Al-Quran dan As Sunnah, anti taqlidisme, menentang bid’ah, mendirikan perguruan, mendirikan departemen khusus wanita Muhammadiyah (yaitu Aisyiah). Para pemimpinnya antara lain: Mas Manyur, Ki Bagus Hadikusumo, AR. Sutan Mansur, KH. Fakih Usman, Junus Anis, Prof. Dr. HM. Rasyidi, Dr. Aboe Bakar Atjeh, Dr. Hamka, Prof. A. Kahar Mudzakir, Kasman Singodimejo dan HAR Fachruddin.
1913
Syaikh Ahmad Sukarti al Anshari, seorang ulama Jam’iyatu aI-Khairiyah, mendirikan gerakan al-Irsyad, yang dapat menampung gagasan yang sangat radikal.
1916
Pada tahun 1916 berdirilah Matla’ul Anwar (M.A.) di Menes Banten.
1923
K.H. Zamzam mendirikan Persatuan Islam (Persis) tanggal 12 September 1923 di Bandung. Tujuannya ialah berlakunya hukum-hukum dan ajaran Islam yang berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah. Aktivitasnya terutama membasmi bid’ah, khufarat, takhayul, taqlid dan syirik di kalangan umat; memperluas tabligh dan da’wah Islam. Para pemimpinnya antara lain: A.Hassan, K.H Ma’shum, K.H. Moenawar Chalil, T.M Hasbi ash-Shiddieqy, K.H. Imam Ghazali, M. Natsir, K.H.M. Isa Anshary, Fachruddin Alkahiri, K.H.E. Abdurrahman, A. Qadir Hasan, Qomaruddin Shaleh, Rusjad Nurdin dan lain-lainnya.
1926
Pada 1 Januari 1926, Nahdatul Ulama didirikan di Surabaya oleh Syaikh Hasyim Asy’ari, sebagai reaksi terhadap gerakan pembaharuan yang dibawa terutama oleh Muhammadiyah. Usahanya antara lain mengembangkan dan mengikuti salah satu dari keempat madzhab fiqih. Tahun 1945 bergabung ke Masyumi, namun 1952 menjadi partai politik sendiri, dan ikut berkompetisi bersama Masyumi pada Pemilu 1955.
1930
Pada 30 Nopember 1930 lahir di Medan al Jami’iyyatull Washliyah, berasas Islam, dalam hukum fiqih bermahzdhab Syafi’i dan i’tikad mengikuti pendirian ahlussunnah wa al-Jama’ah. Para pemimpinnya antara lain: Abdurrahman Sjihab, Arsjad Thalib Lubis, Udin Sjamsuddin, Adnan Lubis dan Bahrum Djamil.
Pergerakan Politik
 
1905
Lahirnya Sarekat Dagang Islam.  1911, menjadi Syarikat Islam.  1923, menjadi Partai Syarikat Islam.  1927, menjadi Partai Syarikat Islam Hindia Timur.
1930
Syarikat Islam Hindia Timur menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Para pemimpinnya ialah H.Samanhudi, H.O.S.Tjokroaminoto, S.M.Kartosoewirjo,
Dr. Sukiman Wirjosandjojo, Abikusno Tjokrosoejoso, H. Agus Salim, Arudji Karwinata, Sjech Marhaban, dan Ch. Ibrahim.
1932
Permi (Persatuan Muslimin Indonesia) didirikan sesudah Thawalib Sumatera direorganisasikan.  Semula bergerak di lapangan sosial. Sejak 1932 menjadi organisasi politik radikal, berhaluan non-koperasi dan anti adat istiadat Minangkabau: bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia.  Melakukan aksinya juga di Tapanuli, Bengkulu dan Palembang. Pada 18 Oktober 1937 organisasi tersebut dibubarkan.
1934
Pada 4 Oktober 1934 didirikan Partai Arab Indonesia di bawah A.R. Baswedan sebagai wadah turunan Arab untuk berjuang bagi tanah air dan bangsa Indonesia.
1937
Atas inisiatif KH. Mas Mansur dan K.H. Dahlan terbentuklah Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI) sebagai wadah federasi kumpulan Islam, pada tahun 1937.
1938
Pada tahun 1938 berdirilah Partai Islam Indonesia. Diantara para pemimpin yang terkenal ialah: Dr Sukiman Wirjosandjojo, Wiwoho, Ki Bagus Hadikusumo, A. Kahar Muzakir, M. Natsir dan K.H. Mas Mansur (sebagai Penasihat).
1943/
1944
Sebagai pengganti M.I.A.I. maka pada zaman kedudukan Jepang didirikanlah Madjlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi), sebagai gerakan non-politik.
1945
Tanggal 22 Juni 1945 ditandatanganilah Piagam Jakarta oleh para pemimpin Indonesia: Soekarno, Mohammad, A.A. Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahr Muzakir, H.A. Salim, Ahmad Subardjo, Wahid Hasyim dan Muhammad Yamin.
Tanggal 17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
1947
PSII keluar dari Masjumi.
 
1952
Dalam kongresnya di Palembang, NU memutuskan keluar dari Masjumi dan menjadi Partai Politik Islam.  Para pemimpinnya yang terkenal ialah: Wahab Chasbullah, Bisri Sjansuri, Wahid Hasjim, K.H.M. Dahlan, K.H. Idham Chalid, K.H. Saifuddin Zuhri, K.H. Masjkur, K.H. Sjaichu, H. Zainul Ariifin, dan K.H. Jusuf Hasyim.
1955
Pemilu: Masjumi  mendapat 57 kursi, NU 45, Partai Islam lain: 13. Seluruh partai Islam mendapatkan  44% dari seluruh kursi DPR..
1960
Masjumi dibubarkan oleh Presiden Soekarno pada Agustus 1960 karena dianggap mentolerir pemberontakan-pemberontakan (DI/TII).  Para pemimpinnya antara lain: M. Natsir, Dr Sukiman Wirjosandjojo, Mr Kasman Singodimedjo, Prawoto Mangkususmito, Mr Sjafruddin Prawiranegara, Mr Burhanoeddin Harahap, Dr Abu Hanifah, Mr Mohamad Roem, M. Yunan Nasution, K.H.M. Isa Anshary, E.Z Muttaqien.
1968
Berdiri Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) sebagai wadah untuk menampung aspirasi ummat yang belum berpartai.  Ketua Umum: Faqih Usman (diusulkan dari dalam) ditolak pemerintah.  Pimpinan selanjutnya: H Djarnawi Hadikusumo (ketua Umum) dan Lukman Harun (sekjen).  Mr Mohamad Roem yang dipilih Muktamar I di Malang juga tidak diterima pemerintah.  Djarnawi–Lukman pun “di-coup” oleh J. Naro dan A. Imran Kadir, dan akhirnya pemerintah mengangkat H.S. Mintaredja sebagai Ketua Umum.
1971
Pemilihan Umum tahun 1971 menghasilkan susunan anggota Dewan Perwakilan Rakyat sebagai berikut: Golkar mendapat 227 kursi (ditambah wakil dari Irian Barat 9), NU 58, Parmusi 24, PNI 20, PSII 10.  Anggota yang diangkat terdiri dari ABRI 75 dan non ABRI 25.  Pemilu ini adalah pemilu pertama Orde Baru, yang kemudian berkuasa selama 32 tahun.
1973
Orde Baru “menyederhanakan” parpol-parpol.  Seluruh partai berkonstituen massa Islam dihimpun dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
1998
Orde Baru lengser.  Soeharto digantikan Habibie yang membuka keran politik.  Era Habibie ditandai dengan lahirnya banyak partai baru. 
1999
Pada Pemilu 1999, keluar sebagai pemenang: Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang berhaluan sekuler-nasionalis; Partai Golongan Karya – eks partai di era Orba yang tinggal dikendalikan alumni HMI; Partai Persatuan Pembangunan – eks partai di era Orba, berasas Islam; Partai Kebangkitan Bangsa – yang tidak berasas Islam namun berbasis massa NU; Partai Amanat Nasional – yang tidak berasas Islam namun berbasis massa Muhammadiyah; Partai Bulan Bintang – berasas Islam, berbasis massa Masyumi.
Beberapa partai Islam lainnya mendapat suara kurang dari 2% sehingga pada pemilu mendatang harus ganti nama.  Di antaranya adalah Partai Keadilan yang kemudian  menjadi Partai Keadilan Sejahtera.
1999
Abdurrahman Wahid (Gus Dur), deklarator PKB menjadi presiden atas usul Amien Rais (PAN) dan dukungan Golkar dan partai-partai Islam, mengalahkan Megawati yang partainya (PDIP) meraih suara terbanyak pada Pemilu.  Tahun 2001 Gus Dur diturunkan oleh Sidang Istimewa MPR karena kasus “Bulog Gate”.
 
 
Pergerakan - Pergerakan Lainnya
 
            Biasanya masing masing organisasi terutama partai politik mempunyai organisasi bawahannya (underbouw) yang secara khusus menggarap masalah-masalah tertentu, seperti aspek wanita, buruh, tani, mahasiswa, pelajar dan lain sebagainya. Disamping organisasi “kekaryaan” bawahan partai, ada pula sejumlah organisasi ”kekaryaan” ýang independen, seperti Serikat Tani Islam Indonesia (STII), Gasbindo (Gabungan Serikat Buruh Islam Indonesia), KBIM (Kongres Buruh Islam Merdeka), PGII (Persatuan Guru Islam Indonesia) dan lain sebagainya.
 
Pergerakan Generasi Muda Islam
 
            Pergerakan umat Islam di Indonesia juga diramaikan dengan munculnya elemen pergerakan yang berbasis generasi muda. Berikut adalah diantaranya :
 
§  Pergerakan Pelajar: Pelajar Islam Indonesia (PII, independen), Ikatan Pelajar Nahdtul Ulama (IPNU, di bawah NU),  Serikat Pelajar Muslimin Indonesia (Sepmi, di bawah PSII), dan  Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM, di bawah Muhammadiyah).
§  Pergerakan Mahasiswa: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI,  independen), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII, di bawah NU), Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia  (Semmi, di bawah PSII), Gerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Germahi, di bawah Perti), Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah (IMM, di bawah Muhammadiyah) dan lain sebaginya.
§  Pergerakan Pemuda: Gerakan Pemuda Islam (GPI, independen), Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor, di bawah  NU), Pemuda Persatuan Islam (di bawah persatuan Islam), Badan Koordinasi Pemuda Masjid Indonesia (BKPMI) dan lain sebagainya.
§  Pergerakan Sarjana: Persatuan Sarjana Muslimin Indonesia (Persami, independen), Ikatan Sarjana Islam Indonesia (ISII, di bawah NU), Serikat Sarjana Muslim Indonesia (Semi di bawah PSII) dan lain sebagainya.
Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Senin, 11 April 11 - 17:20 WIB
Dalam Kategori : PENGETAHUAN, AGAMA
Dibaca sebanyak : 415 Kali
Facebook Feedback