asra إسراء
 
My Social Network
Daftar Blog Lainnya
Kategori
Alexa Rank

RIZKI, BEKERJA DAN TAWAKAL

Ada sebagian orang yang menganggap bahwa rizki itu merupakan hasil usaha manusia. Bila seseorang dinaikkan gajinya, ia merasa bahwa semua itu adalah buah kerja kerasnya dan prestasi kerjanya. Ia merasa rizki berupa kenaikkan gajinya itu berasal dari dirinya. Demikian pula apabila seorang pedagang beruntung, kadang kala ia menganggap bahwa rizki yang berupa keuntungannya itu berasal dari dirinya. Padahal, dengan mendalami ‘aqidah Islam akan ditemukan bahwa pendapat tadi bertentangan dengan ‘aqidah Islam.
 
            Pengamatan secara mendalam terhadap ayat-ayat al-Qur’an menyimpulkan bahwa rizki itu ada di tangan Allah swt. dan berasal dari-Nya. Siapa yang dikehendaki oleh Allah swt. diberi rizki, ia akan mendapatkannya, demikian pula sebaliknya. Firman Allah swt:
 
Kami (Allah) tidak meminta rizki kepada engkau, Kamilah yang memberi engkau rizki. Dan akibat (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Thaha [] : 132)
 
“Dan makanlah dari apa yang Allah rizkikan kapada kamu yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu imani itu” (QS. al-Maidah [5] : 88)
 
“Allah maha lembut kapada hamba-hamba-Nya, Dia memberi rizki kepada yang dia kehendaki” (QS.asy-Syura [42] : 19)
 
Ayat- ayat diatas, juga surat al-An’am [6] : 142, 151; an-Nahl [16] : 114, al-Baqarah [2] : 212 al-Imran [3] : 27, ath-Thalaq [65] : 3, Hud [11] : 6, menunjukan dalam satu pengertian (qath’I dilalah) bahwa Allah swt.-lah pemberi rizki (ar-Razaq), Dialah yang memberikan rizki kepada siapa yang dikehendaki oleh-Nya dan menyempitkan rizki bagi siapa yang Dia kehendaki. Ini adalah perintah Allah swt untuk diyakini.
 
            Berdasarkan ayat-ayat tegas diatas jelaslah bahwa Allah memberi rizki pada siapa saja yang dikehendaki, baik atas usaha orang tersebut atau tanpa usahanya. Seringkali ditemui seseorang mendapatkan rizki tanpa usaha dia. Contoh kasus, seseorang yang sedang naik bus antar kota kemudian kondektur datang dan orang tadi akan membayar ongkos, namun, apa yang terjadi? “Ongkos bapak sudah dibayar oleh bapak yang memakai baji batik,” ujar kondektur sambil menunjuk orang dimaksud. Atau kadang kala ada istilah gaji ketiga belas bagi pegawai negeri. Gaji tersebut diberikan bukan atas usaha ataupun kerja dia, Karen dalam setahun ia hanya bekerja dua belas bulan
. Banyak contoh-contoh yang menunjukkan bahwa tanpa usaha seseorang mendapat rizki, misalnya orang yang mendapay harta melalui jalan warisan, mustahik yang berhak mendapatkan zakat, hadiah yang diberikan oleh seseorang, anak yang menjadi tanggungan orang tua, atau dalam pemerintahan islam ada pemberia harta dari negara bagi orang yang tidak dapat berusaha. Nah, rizki yang diperolehnya tanpa usaha tersebut bukan terjadi secara kebetulan, bukan pula barasal dari atasan atau dirinya, melainkan rizki tersebut berasal dari Allah swt. Walaupu demikian, bukan berarti tidak perlu berusaha, sebab juga sering terjadi tanpa melakukan usaha seseorang tidak mendapatkan rizki apapun. Tanpa melakukan usaha, kadang-kadang seseorang mendapat rizki, kadang-kadang tidak. Dengan kata lain, tanpa-usaha/kerja merupakan keadaa atau jalan saat Allah swt memberikan rizkikepadanya.
 
            Seperti halnya tanpa usaha atau kerja, orang yang bekerja dan berusaha pun kadang-kadang mendapatkan rizki, kadang-kadang tidak. Misalkan, seorang pedagang berusaha sekuat tnaga, namun hasilnya kadang kala beruntung tetapi sekali-kali rugi pula. Contoh lain, seorang pengusaha yang telah menginvestasikan kekayaannya, sekalipun telah berusaha sekuat tenaga boleh jadi suatu saat mengalami kerugian bahkan sampai bangkrut setelah sekian lama mendapatkan keuntungan. Atau seorang pekrja yang baru menrima upah, tiba-tiba sesampainya dirumah merasa heran Karen uang gajinya ludes dengan dompetnya digasak copet, atau mungkin saja tanpa disangka-sangka ia di-PHK. Demikan pula seorang sopir sekali-kali mendapat uang banyak, namun dilain kali hanya sedikit, bahkan untuk membayar setoran pun tidak cukup sekalipun sudah menarik mobil dari pagi hingga malam hari. Ini semua menunjukkan bahwa boleh jadi bekerja mendatangkan rizki, boleh jadi tidak. Dengan demikian bkerja bukanlah ‘sebab’ datangnya rizki, sebab bila bekerja merupakan ‘sebab’ datangnya rizki pastilah setiap bekerja baik dengan cara berdagang, berproduksi, menyopir ataupun menjadi karyawan harus sudah pasti mendatangkan rizki (termasuk keuntungan). Padahal, dalam realitanya tidak selalu demikian. Oleh sebab itu bekerja bukanlah‘sebab’ datangnya rizki, melainkan hanyalah keadaan atau jalan datangnya rizki yang diberikan oleh Allah swt. seperti halnya tidak bekrjapun dapat merupakan keadaan atau jalan datangnya rizki. Oleh karena itu, seseorang yang mendapatkan rizki melalui jalan bekrja tidak dapat mengatakan “rizki ini berasal dari kerja saya”. Sebenarnya, rizki tersebut berasal dari Allah swt. yang Dia berikan melalui jalan bekrjanya orang tersebut.    
            Berdasarkan penjelasan tersebut jelaslah bahwa rizki ada di tangan Allah swt. dan Dia-lah yang memberi rizki kepada siapa saja yang dikehendakinya dan mwnyempitkan rizki bagi siapa yang dikehendaki oleh-Nya. Seseorang mendapatkan rizki sedikit ataupun banyak, seluruhnya sesuai dengan kehendak Allah swt. Adapun jalan datangnya rizki yang diberikan oleh Allah swt. itu dapat melalui kerja seseorang (sebut saja jalan aktif) tapi dapat juga tanpa-kerja seseorang (sebut saja jalan pasif).
 

Islam Memerintahkan Bekerja

          Swkalipun seorang mukmin mengimani bahwa Allah swt. memberi rizki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkan rizki siapa yang Dia Kehendaki baik dengan kerja atau tanpa kerja seseorang namun namun seorang mukmin tidak akan memilih jalan berdiam diri dan menunggu Allah swt. memberi rizki kepadanya. Mengapa? Sebab, disamping dia mengimani bahwa rizki ada ditangan Allah swt. seperti tadi, dia juga memami bahwa Allah swt. memerintahkannya untuk bekerja sesuai dengan dimensi manusiawinya dan hokum sebab akibat yang ada. Si mukmin tadi, tidak hanya melaksanakan perintah Allah untuk mengimani bahwa rizki ditangan Allah swt. saja. Tetapi dia juga melaksanakan perintah Allah swt. yang lain untuk senantasa bekrja sebagai suatu keadaan atau jalan datangnya rizki tersebut.
            Memang banyak ayat al-Quran yang memerintahkan manusia untuk bekerja, diantaranya :
 
“Dialah yang menjadikan bumi ini bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” (QS. al-Mulk [67] : 15)
 
“Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”(QS. al-Jumu’ah [62] : 10)
 
            Imam Ibnu Katsir dalam menjelaskan makna ayat 10 surat al-Jumu’ah diatas menggambarkannya dengan mencari rizki setelah selesai sholat jum’at. Sambl mengutip ulama salaf, beliau menyebutkan siapa saja yang berjual beli setelah selesai sholat jum’at mudah-mudahan Allah swt. memberkahinya tujuh puluh kali (Ibnu Katsir, Tafsirul Quranil ‘Azhim, jilid IV).
 
            Dari kedua ayat itu, jelas sekali bahwa Allah swt. memerintahkan kaum muslimin untuk bekerja dan berupaya mencari rizki yang akan diberikan oleh-Nya sampai ujung penjuru dunia. Oleh karenany, bekerja mencari rizki sebagai karunia dari Allah swt. merupakan suatu bentuk ibadah seorang mukmin kepada Sang Pemberi rizki. Bahkan Rasulullah saw. Memuji pedagang dalam hadits riwayat at-Tarmizi : “Pedagan yang jujur lagi terpecaya, kelak akan bersama-sama para Nabi dan orang-orang yang jujur, serta para syuhada.”
 
            Kesungguhan dalam bekerja mencari rizki seperti ini dipahami betul oleh Umar bin Khathab. Suatu waktu ada seseorang yang aktivitasnya hanya sekedar beribadah di masjid. Lalu Umar menanyainya dari mana ia makan. Orang itu menjawab : “Dari tetangga.” Saat itu pula beliau marah kepada orang tersebut kemudian memberinya bibit dan peralatan pertanian untuk bekerja.
 
            Gambarkan diatas menegaskan bahwa Isalam tidak menghendaki umatnya semata berdiam diri menunggu diberi rizki oleh Allah swt. bahkan Islam membenci orang yang demikian. Allah swt mewahyukan dalam agama Islam ini agar manusia betul-betul giat berusaha dan bekerja, senantiasa berfokir mencari cara yang halal dan terbaik berdasarkan hokum sebab akibat ilmu ekonomi untuk mendapatkan rizki yang halal dan baik tersebut. Tak lupa senantiasa berdo’a kepada Allah swt. agar ia diberi rizki oleh-Nya.
 

Tawakkal

            Seorang mukmin memahami betul bahwa kerja keras adalah ibadah dan satu keharusan. Di samping itu, diapun yakin bahwa kerja keras bukanlah sebab datangnya rizki. Rizki adalah di tangan Allah swt. yang akan diberikan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Oleh sebab itu, sebelum melakukan aktivitas apapun, termasuk bekerja untuk mencari rizki, segala sesuatunya ia serahkan kepada Allah swt. Mau begitu, mau begini, apapun yang terjadi diserahkan kepada Allah swt. “Yang pentung telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan perintah Allah swt,” pikirnya. Nah, sikap hati menyerahkan segala macam urusan kepada Allah swt. itulah yang disebut Tawakkul (yang dalam bahasa Indonesia berubah menjadi Tawakkal).Tawakal ni banyak diperintahkan oleh Allah swt. seperti firman-Nya : “Dan siapa saja yang bertawakkal kepada Allah maka Dia yang akan mencukupkan keperluannya” (at-Thalaq [65] : 2).
 
          Didasarkan pada itu pula, maka seorang mukmin ketika mendapatkan rizki melalui jalan dia bekrja, ia semakin bersyukur kepada Allah. Demikian pula, bila suatu saat ia hanya mendapatkan rizki sedikit, iapun bersabar tanpa keluh kesah karena yakin segitulah pemberian Allah. Namun, hal ini tidak menyurutkan semangatnya untuk senantiasa berupaya bekerja giat dan mencari cara-cara yang lebih jitu sebagai jalan diberikannya rizki oleh Allah swt. Semuanya ini didorong sikap tawakkal yang kuat kepada Allah swt. Demikian pula kalau suatu waktu keadaan demikian silit, ia tidak takut mendapat rizki. Allah swt. Maha Pengasih, insya Allah akan  memberikan rizkinya lewat jalan yang Dia kehendaki. Bila sikap demikian melekat dalam diri seorang muslim, maka ia akan menjadi orang yang professional dalam bekrja, sekaligus pasrah menerima berapapun rizki yang akan diperolehnya, serta tanpa rasa punya khawatir tidak mendapat rizki.
Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Jumat, 01 April 11 - 13:02 WIB
Dalam Kategori : PENGETAHUAN, AGAMA
Dibaca sebanyak : 6276 Kali
Rating : 2 Bagus, 0 Jelek
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback