asra إسراء
 
My Social Network
Daftar Blog Lainnya
Kategori
Alexa Rank

TANDA-TANDA RIDDAH DALAM MASYARAKAT ISLAM

 

 
Sayyid Al Bakri bin Muhammad Syatho ad Dimyati dalam kitabnya “I’aanatu ath Tholibin” menjelaskan bahwa, riddah menurut bahasa berarti ruju’ (kembali), yakni kembali kepada kekafiran.  Dan menurut beliau, riddah adalah seburuk-buruknya kekufuran.  Selanjutnya ad Dimyati mengklasifikasikan riddah menjadi tiga macam:
 
1.    I’tiqad
2.    Perbuatan
3.    Pernyataan
 
Sedangkan riddah menurut pengertian syara’ berarti memutuskan akan keislaman seseorang mukhalaf secara sengaja dengan kekafiran.
 
   Riddah adalah meninggalkan Dienul Islam dan memeluk dien atau aqidah lain yang bertentangan dengan aqidah Islam.  Orang yang melakukan perbuatan riddah disebut murtad.  Banyak hal atau perbuatan yang dapat dikatakan sebagai tanda-tanda riddah (kemurtadan).  Sebagian merupakan tanda-tanda klasik yang sudah ada semenjak masa Rosulullah SAW , sebagaian lagi merupakan bentuk-bentuk baru yang muncul di masa modern ini yang banyak menipu kaum muslimin.
Diantara tanda-tanda ridah (kemurtadan) tersebut adalah sebagai berikut:
 
1.    Meminta perlindungan, memberikan ketaatan dan kekuasaan atau hak untuk membuat hukum kepada selain Allah
 
Setiap orang yang mengambil wali selain Allah dan rasul-Nya atau memberikan hak untuk menetapkan hukum kepada selain Allah dan Rasul-Nya atau bertahkim (meminta keputusan hukum kepada selain Allah dan Rasul-Nya, artinya kepada sesuatu selain Islam, atau ia meyakini aturan lain yang lebih layak, maka berarti ia telah kufur dan keluar dari Islam.
 
Firman Allah SWT:
 
“Barangsiapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka  mereka itu adalah orang-orang yang kafir”(QS.Al Maidah : 44)
 
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu?  Mereka hendak bertahkim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan mengingkari thaghut itu.  Dan syaithan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya”. (QS. An Nisaa’ : 60). 
 
Ibnu Qoyyim dalam kitabnya I’laamul Muqi’in jilid I halaman 50-51, menerangkan bahwa thaghut adalah:
 
Setiap kaum yang berhukum kepada selain Allah SWT dan Rasul-Nya”.
 
 
2.    Membenci sesuatu yang ada dalam Islam
 
Firman Allah SWT:
 
Dan orang-orang yang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka.  Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (yaitu Al Qur’an) lalu Allah menghapus pahala amal-amal mereka” (QS. Muhammad : 8-9)
 
Imam Zamakhsyari dalam tafsir Al Kasyaaf jilid III halaman 532 menyatakan:
 
Merekalah yang membenci Al Qur’an dan semua yang diturunkan Allah berupa taklif-taklif atau hukum-hukum.  Oleh karena itu Allah SWT menghapus amalan-amalan mereka dan menyebut mereka sebagai orang-orang yang celaka dan tidak mendapat pertolongan.  Allah SWT tidak menerima amalan mereka sebab mereka telah kufur dan membenci apa yang diturunkan Allah SWT, padahal iman adalah syarat diterimanya suatu amal
 
 
3.    Mentertawakan ajaran atau syiar (simbol-simbol) Islam,
 
Allah SWT berfirman:
 
 “Orang-orang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka suatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka.  Katakanlah kepada mereka teruskanlah ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya) sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu.  Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu) tentulah mereka akan menjawab:  “sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”.  Katakanlah:  Apakah kepada Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”  Janganlah kamu minta maaf karena kamu sungguh telah kafir sesudah beriman.  Jika Kami maafkan segolongan dari kamu (lantaran kamu bertaubat) niscaya Kami akan mengadzab golongan yang lain disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa”.  (QS. At Taubah : 64-66)
 
Dalam tafsir Al Kasyaaf halaman 200 jilid II, Imam Zamakhsyari meriwayatkan:
 
Suatu ketika Rosulullah SAW berjalan-jalan di saat perang tabuk.  Bebarapa orang munafik berjalan di hadapan beliau dan berseru: “Lihatlah orang ini, yang berkemauan hendak meruntuhkan istana Syam dan benteng-bentengnya.  Betapa jauh angan-angan itu!”  Maka Allah memberitahukan Nabi-Nya, dan Nabi SAW berseru:  “Tahanlah orang-orang itu”.  Rosulullah SAW kemudian mendatangi mereka dan berkata: “ Apakah kalian berkata demikian?”  Namun mereka berkata: “Ya Nabiyullah, tidak! Demi Allah, kami tidak menyangkutpautkan dirimu dengan shahabat-shahabatmu.  Kami hanya bercanda, agar perjalanan ini terasa singkat”.
 
4.    Menghalalkan apa-apa yang diharamkan Allah SWT dan mengharamkan apa-apa yang telah dihalalkan Allah SWT.
 
Allah berfirman:
 
 “Dan janganlah mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidsahmu secara dusta ini halal dan ini haram, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.  Sesungguhnya orang-orang yang mengadakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung (itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka Azab yang sangat pedih”.      (QS. An Nahl : 116-117) 
 
Dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsir menyebutkan:
 
Allah SWT melarang mengikuti jalan hidup orang-orang musyrik, yaitu mereka yang menghalalkan dan mengharamkan hanya semata-mata pendapat dan keinginanya (hawa nafsunya)”. 
 
Kemudian Imam Ibnu Katsir melanjutkan:
 
Yang termasuk dalam makna ini adalah setiap orang yang membuat bid’ah yang tak ada sandarannya dalam syari’at, atau orang yang mengharamkan apa yang dihalalkan dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah berdasarkan pendapat dan keinginannya (hawa nafsunya) sendiri”.
 
 
5.    Iman kepada sebagian ajaran Islam dan kufur kepada sebagian lainnya.
 
Seperti orang yang beriman bahwa Islam itu sekadar agama ibadah ritual, dan ia mengingkari bahwa Islam adalah agama yang di dalamnya terdapat aturan-aturan (sistem) hukum, politik, sosial budaya, dan sebagainya.
 
Allah befirman:
 
 “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara Allah dan Rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada sebagian , dan kami mengingkari terhadap sebagian (yang lain)”  serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (lain) di antara yang demikian  (iman atau kufur)”.  Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya.  Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu siksaan yang menghinakan”  (QS. An Nisaa’: 150-151)
 
Dan firman-Nya:
 
 “Apakah kamu beriman kepada sebagian (isi) Al Kitab (taurat) dan ingkar kepada sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari kalian, melainkan kenistaan di dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat kalian akan dikembalikan pada siksa yang amat berat.  Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”  (QS. Al Baqarah:85)
 
6.    Seruan untuk beriman kepada Al Qur’an dan mengingkari Sunnah (faham ingkar Sunnah)
Allah SWT berfirman
 
Maka demi Tuhnmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemusian tidak ada pada diri mereka keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An Nisaa’:65)
 
Karena itu maka seruan kepada ingkar Sunnah adalah kufur, karena adanya ayat-ayat yang tegas memerintahkan mengikuti Rosulullah SAW, artinya mengikuti sunnahnya.  Seperti dalam firman Allah SWT:
“Apa-apa  yang diberikan Rasul kepadamu maka ambilah dia.  Dan apa-apa  yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.  (QS. Al Hasyr:7)
 
 
7.    Mengejek (menjadikan bahan tertawaan) salah satu perbuatan Rosulullah SAW
 
Allah berfirman:
 
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedang kamu tidak menyadarinya”.  (QS. Al Hujurat:2)
 
Imam Ibnu Hajar Al Asqalany menyatakan dalam kitab Muhalla jilid XI hal. 412:
 
“Allah Ta’ala menetapkan tentang hapusnya amalan seseorang yang mengeraskan suaranya dihadapan Rosulullah SAW.  Padahal hapusnya amal tiada lain kecuali karena kufurnya seseorang.  Termasuk dalam mengalahkan suara melebihi suara Rosulullah SAW adalah merendahkan, mencaci, dan menentang Rosulullah SAW.
 
Jelas dan pasti bahwa tindakan menertawakan Allah dan Rasul-Nya adalah kufur.
 
8.    Seruan sebagian orang yang menyatakan bahwa Al Qur’an mempunyai makna batin (tersembunyi) yang berbeda dengan makna dzahirnya, atau Al Qur’an  mempunyai makna dzahir yang berbeda dengan makna batin, sedangkan yang batin itu hanya dapat dipahami dengan ilham.
 
  Disamping itu ada sebagian kelompok lain yang menyatakan bahwa  Al Qur’an mempunyai makna dzahir dan batin.  Jelas ini ucapan kufur, berdasarkan firman Allah SWT yang menyatakan bahwa :
 
 
“Al Qur’an dalam bahasa Arab yang terang (QS. Asy Syu’ara:195)
 Demikian ia juga kufur terhadap ayat Al Qur’an,:
 
“Dan kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” (QS. An Nahl: 44)
 
Oleh karena itu tidak bisa ditemukan satu ayatpun dalam Al Qur’an yang tak bisa dipahami maknanya, sebab ia diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas dan Nabi SAW telah menjelaskan makna-makna ayat syar’iy yang tak dipahami oleh manusia, sebagaimana telah diterangkan di atas.
 
 
9.    Meyakini bahwa Allah itu menyatu dengan makhluknya (faham manunggaling kawula gusti)
 
Firman Allah:
 
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.  (QS. Asy Syuraa: 11)
Termasuk kekufuran adalah memberikan sifat-sifat yang tidak layak bagi Allah SWT, sebagaimana yang ditegaskan dalam ayat:
 
“Sesungguhnya Allah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya.  Kami akan mencatat ucapan mereka itu dan tindakan mereka membunuh para nabi tanpa alasan yang haq, dan kami akan mengatakan pada mereka:  Rasakanlah olehmu azab yang membakar”.  (QS. Ali Imran: 181)
 
10.  Dakwah atau menyeru kepada faham-faham yang bertentangan dengan Islam.  Misalnya menyeru kepada faham qoumiyyah (golongan), wathoniyyah (kebangsaan), humanisme/insaniyyah/kemanusiaan, dan lain sebagainya.  Setiap orang yang menyeru kepada faham-faham semacam itu dan menjadikannya sebagai dasar ajaran dan tujuan kemudian melakukan langkah usaha dan upaya ke arah itu, maka ia berarti melakukan tindakan kekufuran, dan orang yang melakukannya telah keluar dari Islam (murtad)
 
Rosulullah SAW bersabda:
 
“Tidak termasuk golonganku orang yang menyeru kepada ashobiyyah, dan tidak termasuk golonganku orang yang berperang karena ashobiyyah, dan tidak termasuk golonganku orang yang mati karena ashobiyah”.  (HR. Abu Daud)
 
pada lafadz laisa minna bermakna laisa minal muslimin.
 
Berdasarkan firman Allah SWT:
 
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang telah diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah beriman”  (QS.  Ali Imran: 100)
 
Jadi dakwah kepada faham ashobiyah adalah suatu tindakan kekufuran.  Sedangkan dakwah kepada faham wathoniyah adalah berarti seruan kepada faham perlunya banyak negara dalam wilayah Islam, padahal Islam memerintahkan adanya persatuan negeri dan ummat Islam.
Rosulullah SAW juga bersabda:
 
“Apabila diba’at dua Khalifah, maka bunuhlah yang kedua”  (HR Muslim)
 
Hal ini sejalan dengan perintah Rosulullah SAW untuk membunuh orang yang memecah belah kaum uslimin dengan seruan kepada wathomiyyah, misalnya ucapan bahwa negeri Mesir adalah untuk bangsa mesir, negeri Syria adalah untuk negeri Syria, dan sebagainya.
Rosulullah SAW bersabda
 
“Barangsiapa yang datang kepadamu, di mana saat itu kamu berada dalam persatuan di bawah satu pimpinan,  dia bermaksud hendak meruntuhkan kekuasaan dan memecah belah jama’ahmu, maka bunuhlah ia”.  (HR. Ahmad)
 
Tindakan ini dipandang sebagai kekufuran apabila ia menjadikan faham-faham itu sebagai landasan dan tujuannya, dimana ia mempertaruhkan hidupnya untuk itu, dan demi faham-faham itu ia berperang, dan ia rela dengan apa yang ia perjuangkan.  Demikianlah, ia berarti telah kufur terhadap firman Allah SWT:
 
“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu! Niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka” (QS. An Nisaa’: 66)
 
 
11.Propaganda Faham Insaniyah (Kemanusiaan/Humanisme/Sekuler)
 
Faham ini sebenarnya termasuk faham-faham yang bertentangan dengan aqidah Islam, mislanya propaganda Free Masonry, yang berupaya untuk mengeliminir perbedaan agama-agama di kalangan manusia (ide penyamaan agama atau pendangkalan aqidah).  Dalam setiap pemikirannya, Free Masonry berprinsip agar setiap orang membuang agamanya, dan dibalik aktivitas-aktivitas yang mereka lakukan selalu terselubung usaha-usaha untuk melenyapkan agama (terutama Islam).  Dalam buku Suara Masonry Aziz Mi’dhin menyatakan:
 
“Free Masonry tidak mengikuti cara-cara agama, dan tidak menganut satu aliran (agama) apapun.  Setidaknya-tidaknya dapat dikatakan bahwa setiap aliran (agama) adalah hasil pemikiran manusia……… Free Masonry selalu menjelaskan kepada setiap anggotanya, bahwa seluruh aliran atau agama apapun, tak mampu mengantarkan manusia kepada sesuatu yang hakiki……”
 
Oleh karena itu, seruan terhadap ide semacam ini adalah suatu bentuk pelenyapan agama atau pendangkalan aqidah.  Maka jelas bahwa tindakan semacam ini adalah sesautu kekufuran.
 
Firman Allah SWT:
 
“Mereka ingin memedamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir benci” (QS. Ash Shaff : 8)
Dan firman-Nya pula:
“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya” (QS. At Taubah : 32)
 
12.Meyakini kebenaran sesuatu yang bertentangan dengan aqidah Islam
 
Ragu terhadap aqidah Islam, ragu terhadap yang qoth’iy mengeluarkan ucapan-ucapan kufur, atau berbuat tindakana kufur, misalnya I’tiqad bahwa Allah SWT memiliki sekutu, bahwa Al Qur’an bukan kalamullah, ingkar terhadap perkara-perkara yang “dlorury dalam agama seperti ingkar terhadap sholat, zakat, puasa, haji, wajibnya jihad, haramnya Khamr, judi, zina, dan lain sebagainya.
Demikian juga adanya keraguan bahwa Allah SWT itu satu, ragu bahwa Muhammad itu seorang nabi dan rasul, yakin  bahwa Isa adalah putera Allah SWT, ataupun perbuatan yang jelas-jelas kufur seperti sujud dihadapan berhala, ikut melkukan sembahyang (misa) kaum Nasrani, dan lain sebagainya.  Semua itu adalah bentuk-bentuk kekufuran dan orang-orang yang melakukan atau mengucapkannya berarti telah keluar dari Islam (murtad)
 
Khatimah
 
Demikianlah beberapa tanda-tanda riddah atau kemurtadan yang terjadi di tengah kaum muslimin.  Para ulama telah banyak merinci tanda-tanda riddah ini, atau menjelaskan hal-hal yang membatalkan ke Islaman seseorang. (lihat Fiqih Sunnah-nya Syekh Sayyid Sabiq jilid IX, Al Islam-nya Said Hawwa, dan kitab I’aanatut Thalibin-nya Sayyid Al Bakri bin Muhammad Syatha ad Dimyati.)
 
Penjelasan ini bukan sebuah vonis bagi kaum muslimin.  Vonis “kafir” adalah sesuatu yang amat berat, apalagi mengatakan seseorang telah batal Islamnya dengan harus dibunuh, atau si Atelah murtad sehingga halal darahnya, dan lain sebagainya.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.  Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisaa’:48)
 
Rosulullah SAW juga telah melarang orang-orang Islam agar jangan menuduh saudara Islamnya dengan tuduhan kafir, karena menuduh kafir itu sangat berbahaya.  Nabi SAWjuga melarang orang-orang Islam agar jangan membunuh saudara Islamnya dengan tuduhan kafir,  karena menuduh kafir, karena sesungguhnya menuduh kafir itu sangat berbahaya,  Nabi Saw bersabda:
 
“Jika ada seseorang mengkafirkan saudaranya, maka pengkafiran itu akan kembali kepada dirinya sendiri”.  (HR Muslim dari Ibnu Umar).
 
 
Orang Islam tidak bisa dianggap keluar dari agamanya (murtad). Kecuali bila ia melapangkan dadanya, ia tenang dan tentram terhadap kekufuran, sehingga melakukan perbuatan kufur itu. 
 
Allah SWT berfirman:
 
“Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah ia beriman, kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman, akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaaan Allah menimpanya dan baginya Azab yang besar” (QS. An Nahl:108)
Karena apa yang tersirat di hati itu ghaib dan tidak diketahui oleh siapapun kecuali Allah, maka untuk mengetahui kakfiran seseorang diperlukan adanya sesuatu yang menunjukkan kekafirannya, sebagai bukti yang pasti yang tidak dapat diragukan lagi.
 
Maslah Irtidaad ini memang masalah yang cukup banyak mendapat pembahasan dalam kitab-kitab fiqih Islam.  Dan Islam telah menetapkan syari’at atau peraturan bagaimana cara menghadapi dan menghukumi orang-orang yang murtad.  Masalah ini adalah masalah syari’at, maka harus dikembalikan bagaimana cara syari’at Islam menanganinya.  Penjelasan ini hanyalah sebagai upaya penggugah diri bagi kaum muslimin seluruhnya, sebab banyak terjadi gejala-gejala kemurtadan yang merasuk ke dalam tubuh kaum muslimin tanpa disadari.  Banyak yang tak sadar betapa berharganya iman dan berbahayanya kekufuran, sehingga kekayaan yang paling berharga itu lolos dari penjagaan.  Bagaimanapun juga kehidupan kaum muslimin secara keseluruhan masih mengandung nilai-nilai iman, betapapun kecilnya.  Maka alangkah sayangnya jika kekayaan yang tertinggal itu kemudian pupus.
 
Umat ini adalah umat yang dimuliakan oleh Allah SWT dengan Islam, dan menjadikan Islam sebagai sumber kemuliaan, kemenangan, dan persatuan.  Sangat fatal jika umat tergelincir dalam kemusyrikan dan kekufuran, ataupun memilih aqidah atau sistem kehidupan yang lain dari Islam.  Dan Rosulullah saw. telah memperingatkan ummatnya tentang akan terjadinya bentuk-bentuk riddah yang kini banyak muncul di tengah ummat. Rosulullah saw. bersabda:

“Hendaklah kalian cepat-cepat beramal shalih, sesungguhnya akan datang (suatu masa) yang penuh dengan fitnah seperti pekatnya malam yang gelap gulita.  (saat itu) seorang yang sore harinya beriman, paginya dapat menjadi kufur.  Dia menjual agamanya dengan harta  benda dunia yang sedikit” (HR Thabrani dan Ibnu Majah)

Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Kamis, 24 Maret 11 - 16:12 WIB
Dalam Kategori : PENGETAHUAN, AGAMA
Dibaca sebanyak : 1658 Kali
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback