asra إسراء
 
My Social Network
Daftar Blog Lainnya
Kategori
Alexa Rank

TAQDIR, QADHA DAN QADAR

TAQDIR DAN PENGERTIAN IMAN TERHADAPNYA.  
 
       Seorang muslim beriman dan yakin bahwa semua keadaan di dunia ini pasti diketahui oleh AllahSWT(karena memang Allah Maha Mengetahui sesuatu         
\bersufat Al’-Alim ) : baik kejadian yang telah terjadi, sedang maupun yang akan terjadi. Kejadian apapun bentuknya telah diketahui oleh Allah SWT dan dituliskan di Lauhul Mahfuzh (kitab induk dan gambaran umum luasnya ilmu Allah SWT ).
       Inilah pengertian sederhana daro takdir yang telah dijelaskan oleh Al-Qur’an dan hadits Rasulullah SAW. Dengan kata lain takdir adalah catatan(ilmu Allah) yang menyeluruh tentang segala sesuatu . Yang dimaksud dengan  ‘segala sesuatu ‘ , termasuk benda-benda, manusia amal perbuatannya, makhluk hidup lain ,dan lain-lain; semuanya telah tercatat/diketahui oleh Allah SWT. dan dituliskan di Lauhul mahfuzh    
       Setiap muslim wajib beriman kepada takdir karena ia bagian dari rukun iman, berdasarkan hadts yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Umar bin Khatab; ketika itu malaikat Jibril datang kepada Nabi SAW dan bertanya yang artinya “Coba ceritakan apa iman itu ?. lalu Rasulullah mnjawab : Iman itu percaya kepada adanya Allah, malikat-Nya, kitab-kitab-Nya , para rasul-Nya, hari kiamat dan percaya kepada takdir baik dan buruknya berasal dari Allah SWT.” (HR. Muslim).
Seorang yang tidak percaya kepasda takdir, maka imannya cacat bahkan dapat mengeluarkannya dari Islam, karena masalah ini telah tegas  dijelaskan oleh nash-nash Al-Qur’an dan hadits Rasulullah SAW, seperti ayat yang artinya “Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut taqdirnya/ukurannya” (QS. Al- Qamar: 49).
       Dalam menafsirkan ayat ini Imam Asy-Syuyuti menyatakan :
      
        “Kepercayaan yang dipegang oleh Ahlus Sunah Wal Jama’ah adalah bahwa Allah SWT. Telah mentakdirkan segala sesuatu . artinya telah mengetahui ukuran ,kondisi, peraturan, dan waktunya,  jauh        sebelum sesuatu itu terjadi. Oleh karena itu tidak ada sesuatu kejadian dilangit dan bumi kecuali seluruhnya muncul dari ilmu, qudrah (kekuasaan) dan iradah (kehendak) Allah SWT.” (lihat tafsir Imam Qurthubi juz XVII hal. 148).
                         
        Makna dari semua ini adalah bahwa Allah SWT telah mengetahui segala sesuatu tentang manusia sebelum ia diciptakan.  Dia juga mengetahui ketetapan nasib seseorang didunia ini maupun di akhirat kelak (bahagia atau celaka, sukses atau gagal, kaya atau iskin, umurnya dsb).
 
        Pahamilah, pembahasan masalah takdir sebenarnya hanyalah kekuasaan Allah SWT. Takdir merupakan ilmu Allah dan kekhususan bagi-Nya (ilmu Allah mencakup segala sesuatu karena ia memang bersifa Al-Alim) dan mustahil    
ada sesuatu yang tidak diketahui-Nya.
        Hadits berikut ini menunjukkan wajibnya Iman kepada takdir dan larangan mengingkarinya: “ Bagi setiap umat akan muncul segolongan manusia
yang berperilaku seprti majusi.Orang-orang majusi mengatakan bahwa tidak ada takdir. Jika diantara mereka ada yang meninggal, maka janganlah kalian menghadiri jenazahnya. Jika mereka sakit,janganlah dijenguk,(sebab) mereka adalah (sama dengan) golongan dajjal. Memang pantas ketentuan tersebut,yaitu menghubungkan perilaku mereka yang mirip dengan dajjal, adalah ketentuan yang hak (benar) dari Allah SWT.” (HR. Abu Dawud dari Hudzaifah, lihat sunah Abu dawud. Juz, IV hal. 222).
        Meskipun kita beriman kepada takdir (ilmu) Allah SWT, tetapi janganlah mencampuradukkan antara “iman kepada takdir “ tersebut dengan “amal perbuatan manusia”, karena keduanya tidak ada hubungan sama sekali. Artinya, Ilmu Allah ( takdir ) tidak pernah memaksa seseoranguntuk berbuat sesuatu dan juga tidak pernah memaksa seseorang untuk tidak berbuat sesuatu.
        Rasuullah SAW. Telah melarang para shahabatnya mencampuradukkan  
pemahaman takdir dengan amal perbuatan manusia yang dapat menyebabkan manusia tidak mau berusaha.
Harus dipahami bahwa ada perbedaan antara: apa-apa yang harus diyakini dengan apa-apa yang harus dikerjakan !
 
        Telah diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Ali bin Abi Thalib ra. Yang artinya :
        
        “ Rasululah  SAW. suatu hari duduk-duduk (bersama para shahabat). Di tangan beliau ada sepotong kayu, lalu dengan kayu tersebut beliau menggores-gores (tanah). lalu nabi mengangkat kepala dan berkata : “Setiap kalian yang bernyawa sudah ditetapkan tempatnya di jannah (surga) dan jahannam:, para shahabat (terkejut) lalu bertanya: “ kalau demikian ya Rasulullah apa gunanya kita beramal ? apakah tidak lebih baik kita bertawakal saja (kepada takdir) ? Beliau menjawab : “ jangan! tetaplah beramal, setiap orang akan dimudahkan oleh Allah jalan yang sudah ditentukan baginya”. Lalu Rasulullah membaca surat Al-Ail ayat 5-10”. (lihat Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawin, juz XVI , hal . 196-197).
 
        Sesungguhnya Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan dengan bekal akal,kekuatan , persiapan tenaga dan ilmu agar ia mampu membedakan mana yang salah dan mana yang benar sebagai standar perbuatannya. Dengan denikian maka secara sukarela manusia akan memilih (tanpa adanyaunsur paksaan) suatu kehendaknya sendiri . karena sesungguhnya takdir hanyalah pemberitahuan tentang ilmu Allah yang sangat luas. meliputi segala sesuatu dari ilmu Allah tersebut tidak pernah memaksa seseorang untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu.
(lihat Imam Al-Khattabi dalam aqidah     Islam Sayyid sabbiq , hal. 151)
 
Tak ada seorang manusiapun yang tahu apa yang tertulis bagi dirinya di lauhul mahfuzh. Karena tidak bisa di benarkan jika ada seseorang yang berkata: “saya berbuat begini karena telah di tuliskan Allah SWT di luhul mahfuz harus berbuat begini.” Karena, dari mana ia tahu bahwa Allah telah menuliskan perbuatan tersebut baginya di luhul mafhuz?
 
     Sesungguhnya beriman kepada rakdir dalam pemahaman yang benar, pasti akan memberikan semangat juang yang luar biasa. Pemahaman yang utuh akan memberikan dorongan yang positif untuk meraih kehidupan yang bahagia yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasulnya dalam garisan syariat islam. Selain itu hal tersebut juga akan memberikan juga ketabahan dan keberanian dalam membela yang hak, berhati baja dalam merealisasikan yang hal-hal yang haq serta menetapi segala kewajiban yang di bebankan kepadanya. Tidak ada istilah lemah dan putus asa dalam kamus orang yang beriman kepada takdir dengan pemahaman yang benar. Ia akan menjadi orang yang bersyukur ketika langkah-langkahnya memberikan keberhasilan/kebaikan dan ia akan menjadi orang yang sabar ketika langkah-langkahya tidak memberikan keberhasilan.
 
 
QODHO DAN QODHAR SERTA PENGERTIAN
 
IMAN  TERHADAP KEDUANYA
 
Asal Mula Munculnya Istilah Qodho danQodhar.
 
Akhir abad kedua  merupakan masa suburnya masa penaklukan oleh khilapah islamiah ke seluruh penjuru dunia. Banyak hal baru mulai di temukan, termasuk usaha-usaha menerjemahkan paham-paham di luar islan semisal filsapat(yunani). Kaum muslimin mulai mengkaji filsapat yunani  ia pada awalnya hanya semacam kebutuhan untuk menjawab tantangan dari orang-orang nasrani. Fisapat ini di pakai sebagai alat untuk berdebat dengan mereka setelah dari pihak nasrani terlebih dahulu mempelajarinya untuk mempertahankan aqidah mereka. Misalnya mereka telah menggunakan logika (manthiq) sebagai sesuatu yang penting untuk membantu mereka dalam berpikir, berdialog maupun berdebat. Kaum muslimin tergerak hatinya untuk mempelajari filsapat yunani untuk membantah masalah-masalah yang di lontarkan fihak nasrani, terutama dalam bidang “kebebasan bertindak” (free will). Didalam filsapat yunani sendiri terdapat dua golongan besar yang mengartikan makna kebebasan bertindak ini. Ada golongan “Etikure”, suatu paham yang mengartikan kebebasan tersebut secara mutlak (serba boleh); dan ada golongan”Skeptisme” atau “Stoaisma”, suatu paham yang mengartikan bahwa tidak ada paham kebebasan (serba menyerah). Golongan terakhir ini sering di sebut golongan “fatalisme “.
 
     Setelah pasukan jihad kaum muslimin telah melakukan berbagai penaklukan (di aisa dan di afrika). Barulah mereka mempunya waktu luang untuk berfikir. dengan tenang mereka mulai mengkaji berbagai masalah baru yang timbul. Ketika itulah (akhir abad pertama atau memasuki abad kedua hijriah) muncul permasalahan qodho dan qodhar. Masalah ini telah lama menjadi bahan pembahasan filosofi yunani. Ia juga menjadi pemahaman dan di kutip oleh kalangan nasrani dari sekte suryanis. Bahkan masalah ini juga telah lama menjadi pembahasan dari kalangan sekte zarasutra.
 
Faham Qodhariah (Muktazilah)
 
     Ketika islam telah menyebar hampir keseluruh penjuru dunia, kemunculan berbagai paham di dalam ajaran islam sulit di hindari. Oleh karena itu kemunculan dari segolongan kaum muslimin yang berpendapat bahwa manusia itu bebas berkehendak atau terlepas dari taqdir Allah SWT adalah salah satu akibat persinggungan islan dengan budaya setempat. Golongan ini mengatakan bahwa manusia bebas berkehendak. Dengan kata lain, manusia memiliki kemampuan (qodhar) untuk berusaha sendiri. Itulah sebabya golongan ini di sebut dengan “Qodhariah”. Mereka menolak pengaturan untuk segala sesuatunya sesuai dengan taqdir (al-qodhar) maupun dalam ketetapan Allah. Faham ini pertama kali di kembangkan oleh Wasil bin Ata.
 
       Secara garis besar, Mukhtazilah berpendapat bahwa manusia memiliki kehendak (irdhlah), kekuatan, kekuasaan (kudrat, power) dan kebebasan (huriah,freedom) untuk berbuat atau tidak berbuat serta terlepas dari kehendak, kekuasaan dan taqdir Allah. karena itu, menurut faham ini, wajar dan adil apabila manusia harus bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Golongan ini memandang bahwa manusia sesungguhnya menciptakan segala perbuatannya dengan ikhtiar dan kudratnya sendiri serta berdasarkan kehendaknya sendiri. Manusia itu “mukhtar” (bebas memilih dan menentukan). Jika ia mau maka ia kerjakan; jika tidak, maka ia tinggalkan. Iradhlat dan kudratnya tidak turut campur dalam perbuatan manusia.
 
      Inilah faham indeterminasi (qodhariah) dari filsapat yunani yang merasuk ke pemikiran dunia islam yang menyebabkan banyaknya orang yang terselewengkan hanyat oleh pikiran melayang yang akhirnya jatuh kejurang kesesatan, bahkan pemikiran ini telah mengganggu persatan ummat. Golongan ini mengemukakan beberapa alasan, antara lain
 
     Pertama, perbuatan manusia terdiri dari dua gerak yaitu gerak ihktiariah dan indthiriah. Tidak lah sama antara gerak memukul (sengaja) dengan tangan gemetar karena ketakutan.
 
     Kedua, pelaksanaan hukum syar’i (taklif syar’i) pahala dan siksa terkait  dengan iradhat dan kudrat. Orang yang tidak mempunyai keduanya, bebas dari taklif syar’i.
 
     Ketiga, andaikan semua perbuatan manusia terjadi atas irodhat dan kudratnya maka semua perbuatan tersebut dapat di sadarkan (dilimpahkan) kepada Allah, maka perbuatan seperti shalat, shaum,dusta, mencuri dan sebagainya semua kehendak Allah semata. jelas ini tidak mungkin.
 
     Untuk mendukung pendapat mereka, Muktazilah gemar menakwilkan ayat-ayat quran. Ayat-ayat al-quran yang sering di kutip adalah ayat-ayat yang menunjukan bahwa manusia mendapat balasan atas perbuatannya. Misalnya
Artinya “ Seseorang tidak mengetahui apa yang di sembunyikan untuk mereka, yakni (aneka nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan “.
( Quran As- Sadjadah 17)
 
     Mereka berdalih bahwa sekiranya perbuatan manusia itu bersasal dari Allah mengapa ada balasan dari Allah atas perbuatan manusia. Oleh karena itu, maka perbuatan manusia haruslah datang (berasal) dari manusia. Argumentasi seperti ini mereka ambil dari firman Allah yang  artinya
“(Dan) katakanlah :  “kebenaran itu datangnya dari rabbu maka, siapa saja yang ingin (beriman ) hendaklah ia beriman. dan siapa saja yang ingin (kafir), bialah ia kafir ... “ (QS Al-kahfi  29).
 
     Ayat tersebut mereka takwilkan sebagai isyarat kebebasan : mau percaya atau tidak. Argumentasi mereka adalah kalau perbuatan manusia bukan atas ,kehendak manusia maka buat apa ayat itu di munculkan.  Sebab, manusia dalam hal ini bukanlah robot (benda mati) yang tanpa daya. Ia mempunyai gerak dan kemampuan untuk menentukan kehidupannya di dunia, sebab, ada perintah agama untuk melakukanya dan ada pula larangannya. Semua harus di l;akukan oleh manusia yang sadar, dewasa, bertanggung jawab serta serius.
 
     Pada posisi yang demikian maka, Allah memberikan kudrtnya secara penuh kepada manusia, keinginan untuk memilih dan otak untuk berpkir,kepada mereka juga di utus para Rasul sebagai teladan dalam berbuat dalam bidang batas-batas wajib, sunnah, haram makruh dst. Dalam perkembangannya paham ini telah di rangkul erat-erat oleh ahli fikir barat yang nigin menyesatkan kaum muslimin dengan cara melepaskan mereka dari imanya serta membawa kedunia akal yang seluas samudra yang tidak berpantai.
 
     Pada hal islam telah memulai risalahnya dengan penanman iman dan beriman kepada enam rukun iman yang di mulai beriman kepada Allah dan Rasulnya. Inilah ikatan yang mengekang manusia dalam menggunakan akalya, yaitu segala sesuatu telah di berikan batas, dari garis halal dan haram nya. Dengan cara ini, maka manusia tidak akan tergelincir ataupun menyingkir.
 
     Mukhtazilah adalah golongan yang bergerak dalam tiga fungsi: agama-filsapat-politik. nama lain mukhtazilah adalah qodhariah, adliah,atau menyebut dirinya “Ahlul Adliwat-Tauhid”
(penganut paham keadilan dan keesaan Allah). Nama ini muncul karena mereka memberikan haq bagi setiap orang untuk menerima atau mengabaikan aksistensi  dari sipat-sipat allah. Tidak ada paksaan dari Allah dan manusia memiliki kekuasaan (kudrat) untuk meletakan pilihanya dalam hidup ini. Inilah keadilan itu karena manusia tidak di paksa untuk melakukan sesuatu, bahkan manusia di berikan kebebasan.
 
     Mereka berpendapat bahwa akal di perlukan untuk mengetahui yang baik dan yang buruk  sekalipun standar nilai trersenut di tentukan oleh syariah-Nya.
Sebab menurut mereka,nilai terbut timbul karena di sebabkan adanya sesuatu yang menyebabkan ia baik  atau buruk. pada saat itulah akal di perlukan untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang pula yang buruk.
 
Fahan Jabariah
 
Faham ini sangat bertolak belakang dengan faham sebelumnya. Mengenai kemunculanya, ada yang berpendapat bahwa paham jabariah muncul sebelum adanya mu’tazilah15) Tetapi Imam Sa’duddin At-Taftazani berpendapat sebaliknya16 ). Namun perbedaan ini tidak terlalu penting. Sebab fokus masalah yang ingin di bahas adalah bagaimana bentuk pemikiran yang muncul di sekitar masalah qodha dan qodhar.
Orang yang pertama memelopori faham zabariah adalah Zahmu buin Sofwan17. Ia berkata bahwa manusia itu tidak memiliki kekuasaan untuk memilih. Ia harus pasrah. Ia tidak mengerjakan sesuatu selain apa yang telah di tentukan, dan bahwa Allah telah menakdirkan amal perbuatan manusia yang harus di kerjakan. Juga Allah telah menciptakan amal perbuatan untuk manusia yang sma halnya dengan penciptaan terhadap benda-benda.Ia tidak ubahnya seperti air yang mengalir, angin yang berhembus,batu yang jatuh (tertari grafitasi). Keadaan seperti ini tdak ada bedanya dengan perbuatan manusia yang semuanya telah di ciptakan oleh Allah(berupa gerak dan perasaanya). Manusia melakukan sesuatu apapun sesuaidengan apa yang telah di tetapkan oleh Allah Ia hanya berfungsi sebagai alat, tidak lebih dari itu).
 
     Sering kita menyebu;t;kan pohon berbuah, air mengalir,matahari terbit, awan menurunkan hujan,tanah menumbuhkan tetanaman.Atau di k’atakan pula bahwa seseorang(Ahmad misalnya)menulis, hakim menjatuhkan vonis, si Anu taat tapi di sini melakukan maksiat. Semua keadaan dari perbuatan di atas masuk dalam pembahasan yang samadengan sebelumnya, yaitu situasidan kondisi tersebut hanyalah sebatas objek.
 
     Oleh karena itu,pahala dan siksa, amal perbuatan adalah tidak lain hasil dari paksaan. Allah telah menakdirkan terhadap diri seseorangsesuatu amal perbuatan, misalnya kebaikan,agar orang tersebut mendapat pahala dan begitu juga kalau Allah telah menakdirkan seseorang yang lain untuk melakukan amal perbuatan maksiat, maka orang tersebut telah di takdirkan untuk  mendapat siksa.
 
     Imam a’duddin At-taftazany 18) menyebutkan goloongan ini berpendapat bahwa manusia tidak sekali-kali menguasai dirinya dalam setiap perbuatan, apakah baik atau jahat. Ia tidak ada bedanya dengan benda-benda beku yang tidak bernyawa dalam alam semesta ini. Manusia bukan subyek, malainkan hanya sebagai obyek(kehendak dari luar). Dengan kata lain, manusia di paksa oleh kekuatan dati luar dirinya, yakni atas kehendak kekuasaan dari Allah. Ia tidak mempunyai kebebasan untuk berkehendak (laa hurriyyatul iradah), dan tidak memilikikekuasaan untuk berbuat sesuatu.
 
Faham Ahlussunnah Wal jam’ah
 
     Mohammad Fuad Fachrudin 19)  mengatakan bahwa kemunculan dua faham di atas , mendorong kalangan ulama Ahlussunnah, seperti Abul Hasan Al-asy’ari dan Mansur Al-Maturidy 20) memberikan jawaban untuk membela aqidah umat islam agar tidak tersesat oleh faham muktazilah (Qadariyah) maupun oleh jabariyah.
 
     Walaupun di kalangan ahlussunnah Wal Jama’ah  terbagi dua golongan, tetapi mereka sepakat bahwa manusia mempunyai (diberi) kebebasan berkehendak, bekuasa dan berpengetahuan (knoeledge), tetapi hanya sampai pada ujung tertentu (ada batasnya/dibatasi). Faham ini berpendapat bahwa sesungguhya dalam diri manusia ada kehendak berbuat dan ada khasiat yang melahirkan perbuatan.Semua itu di ciptakan Allah SWT tat kala seseorang ‘memulai’ melakukan suatu perbuatan, sampai pada suatu ‘batas’ yang saat ‘batas’ itulah Allah menentukan , jadi tidaknya perbuatan tersebut 21) . Jadi ketika seseorang akan/sedang berbuat maksiatatau perbuatan terpuji, maka ketika itulah Allah menciptakan perbuatan tersebut bagi si hamba. Kesimpulan itu di ambil dari beberapa ayat Al-Quran, antara lain
Artinya
     “ Mereka itulah penghuni jannah. mereka kekal didalamnyasebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan “ (QS. Al-Ahqat 14)
 
     “ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang di usahakanya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang di kerjakannya “ (QS. Al-Baqarah 266.
     “(Dan) katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Rabbu. Maka, siapa saja yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman. Dan siapa saja yang ingin (kafir), biarlah ia kafir...” (QS. Al-Kahfi 29).
     Dalam pembahansan ayat-ayat tersebut, faham ini memunculkan sifat Maha Adil (keadilan) Allah. Mereka mengaikan sifat Maha Adil itu dengan dosa dan fahala, atau, siksa dan kenikmatan, yang erat kaitannya dengan perbuatan.
 
BAGAIMANA MENYIKAPI BERBAGAI  FAHAM INI    ?
 
Demikianlah kaum muslimin terpecah ke dalam tiga golongan besar ketika mereka membahas amal/perbuatan menusia yang di kaitkan dengan azas taklif , pahala dan siksa. Terjadinya golongan-golongan tersebut di sebabkan karena mereka menafsirkan beberapa ayat nash Al-Queran tentang perbuatan m,anusia yang menurut mereka muncul atas kekuasaan manusia sendiri, juga karena ada nash dari ayat Al-Quran yang merut mereka menunjukan bahwa perbuatan manusia tergantung kepada kehendak Allah. Golongan pertama dari kalangan Mu’tazilah, golongan kedua dari golongan Jabbariah. Namun ada golongan berada di tengah-tengah kedua golongan tersebut, yaitu dari kalangan Ahlussunnah22)
 
Dasar Pembahasan ‘Qadla dan Qadar’
 
Sesungguhnya, apabila kita meneliti masalah ‘qadla danqdar’ (sebagai suatu istilah baru, yang memiliki makna tersendiri) akan kita dapati bahwa ketelitian bahasannya menurut kita untuk mengetahui terlebih dahulu dasar berdirinya pembatatasan ini atau dengan kata lain,apa yang menjadi dasar pembahasan dalam permasalahan qadla dan qadar ini.
 
     Sesungguhnya, dasar pembahasan/permasalahan ini bukanlah hal-hal berikut:
 
(1) tentang penciptaan perbuatan hamba, yakni, apakah perbuatan itu di ciptakan oleh allah atrau oleh dirinya sendiri.
(2) juga bukan tentang ilmu Allah, yakni apakah Allah SWT mengetahui atau tidak apa yang akan di perbuat oleh seorang hamba.
(3) juga bukan tentang iradah Alah,yakni apakah perbuatan manusioa selalu sama atau berbeda dengan iradah/kehendak Allah.
(4) juga bukan tentang luhul mahfuzh, yakni apakah  perbuatan manusia akan selalu sama atau berbeda dengan apa yang tertulius di luhul mahfuzh.
 
     Memang, bukan perkara-perkara di atas tadi yang menjadi dasar bagi pembahasan ‘qadla dan qadar’. S ebab tidak ada hubunganya dalam pembahasan hal-hal tersebut di atas, dari segi ‘pahala dan siksa’. Melainkan perkara-perkara tadi hanya berhubungan dengan ‘penciptaan’, ilmu (Allah) yang sanggup meliputi segala sesuatu, iradah yang berkaitan dengan segala kemungkinan-kemungkinan,  dan kemampuan Lauhul Mahfuzh yang mencangkup segala sesuatu. Hubungan ini jelas merupakan topik lain yang terpisah dari topik ‘pahala dan siksa’ atas suatu perbuatan.
 
     Dengan kata lain, masalah sebenarnya dalam pembahasan ‘qadla dan qadar’, adalah pertanyaan :
    
Apakah manusia itu di paksa untuk melakukan ( atau meninggalkan ) suatu perbuatan (baik atau buruk ), ataukah ia di beri kebebasan untuk memilih?
 
     Inilah yang menjadi dasar pembahasan masalah ‘qadla dan qadar’, yaitu’perbuatan manusia’. Karena ‘perbuatan manusia’ marupakan hal yang dapat di indera bahkan dapat di rasakan, maka dalil-dalilnyapun bersipat aqli. Dengan demikian jelaslah permasalahan yang akan di bahas dalam tema qadla dan qadar ini.
 
Hakikat Perbuatan Manusia dan Kejadian-Kejadian yang Menimpa Manusia.
 
     Sesungguhnya,apabila kita meneliti suatu perbuatan/kejadian,yang di lakukan atau yang menimpa manusia,akan kita jumpai bahwasanya manusia itu hidup dan beraktifitas di dalam dua wilayah.
 
(a) Wilayah yang pertama adalah wilayah yang di kuasai manusia, yaitu wilayah yang berada di bawah batasan/kontrol tingkah lakunya dan di dalamnya terjadi perbuatan-perbuatan yang timbul karena semata-mata pilihaanya sendiri.
 
(b) Wilayah yang kedua adalah wilayah yang menguasai manusia, yakni wilayah di mana manusia berada di bawah kekuasaanya. Dalam wilayah kedua ini terjadi perbuatan serta kejadian yang manusia tidak memiliki peran sedikitpun. Manusia di paksa menerimanya,baik perbuatan dan kejadian itu  dari dirinya atau yang menimpanya.
 
     Perbuatan dan kejadian pada wilayah pertama, mudah di ketahui, semisal, apakah kita mau duduk atau berjalan,makan-minum atau tidak,minum sirup atau khamr, berbakti atau durhaka kepada orang tua,belajar atau tidak dan lain-lain. Seluruh perbuatan pada wilayah pertama ini, jelas di lakukan atas kesadaran dan kesukarelaan manusia, tanpa paksaan dari pihak manapun.
 
     Adapun perbuatan dan kejadian yang terjadi pada wilayah kedua, manusia tidak memiliki peran apapun atas kejadiannya. Manusia di paksa untuk menerimanya,suka rela maupun terpaksa, karena memang berada di luar kekuasaan manusia.
 
     Perbuatan dan kejadian-kejadian pada wilayah keduaini terdiri dari bentuk. Pertama, kejadian yang di tentukan oleh’nidzum wujud’ (sunnatullah/peraturan alam). kedua, kejadian yang tidak di tentukan oleh ‘nidzom wujud’, namaun tetap berada di luar kekuasaan manusia, dia tidak dapat menghindari dan terikat dengan ‘nidzom wujud’.
 
     Adapun bagian yang pertama, yaitu nidzom wujud’ telah memaksa manusia untuk tunduk di bawahnya. Oleh karena itu manusia harus berjalan sesuai dengan ketentuannya, sebagai mana manusia berjalan bersama alam semesta dan kehidupan sesuai dengan peraturan tertentu yang tidak bisa di langgarnya. Karenanya, kejadian-kejadian yang ada pada wilayah ini muncul tanpa kehendak manusia.
 
     Di sini manusia di atur, tidak bebas memilih. Misalnya saja ia datang kedunia ini dan akan meninggalkannya tanpa kemauannya. Ia  tidak dapat terbang di udara hanya dengan tubuhnya. Ia tidak dapat menciptakan warna matanya sendiri. Ia tidak bisa menciptakan bentuk kepalanya dan tubuhnya.. Melainkan yang menciptakan ini semua Allah SWT, tanpa ada pengaruh atau hubungan sedikitpun dari hamba yang mahluk itu . Sebab hanya Allah lah yang menciptakan ‘nidzom wujud’ itu sendiri. Di jadikanya sebagai alat pengatur (alam) ini. Dan alampun di perintahkan untukl berjalan sesuai dengan ketentuanya tanpa kuasa untuk melanggarnya.
 
     Adapun kejadian yang tidak di tentukan oleh ‘nidzom wujud’, namun tetap berada di luar kekuasaan manusia, adalah kejadian atau perbuatan yang berasal dari manusia atau yang menimpanya, yang sama sekali berada di luar kemampuannya untuk menolak. Seperti misalnya seseorang yang jatuh dari atas tembok dan menimpa orang lain dan orang yang tertimpa tersebut tewas, atau seperti hal nya orang yang menembak burung tetapi secara tidak sadar mengenai manusia hingga meninggal. Atau seperti halnya kecelakaan pesawat, kereta api dan mobil di sebabkan karena kerusakan mendadak, baik yang berasal dari manusia  atau yang malah di kemampuannya, meskipun tidak di tentukan oleh ‘nidzom wujud’, akan tetapi tetap terjadi tanpa kehendak manusia dan di luar kekuasaannya.
 
     Kedua bentuk kejadian ini dapat kita golongkan kedalam wilayah yang menguasai manusia (wilayah kedua).
 
     Segala kejadian yang terjadi pada wilayah yang menguasai manusia, itulah yang di namakan qadla (keputusan) Allah.Sebab Allah lah yang mengqadla (memutuskanya).
 
     Terlepas apakah hal/keputusan itu menjadi kebaikan (qadla yang baik) atau keburukan (qadla yang buruk), m,enurut penafsiran manusia. Yang jelas kebaikan/keburukan tersebut bukan menimpa kita karena adanya ‘hari baik’, hari apes.memakai jimat/mantra dsb. Semua itu di putuskan oleh Allah untuk menimpa manusia.
 
     Oleh karena itu seorang hamba tidak akan di hisab atas terjadinya kejadian-kejadian ini. Meskipun kejadian itu mengandung manfaat atau kerugian, di sukai atau di benci oleh manusia, Manusia tidak akan di hijab atas kejadian ini, sebab manusia tidak memiliki pengaruh atas kejadian tersebut, serta tidak tahu menahu tentang kejadian tersebut, bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Iapun tidak memiliki kemampuan sama sekali untuk menolak atau mendatangkanya. Manusia hanya di wajibkan untuk beriman akan adanya qadla. dan bahwasannya qadla itu datang dari Allah SWT, bukan dari yang lain.
 
 
Memahami makna Qadar.
 
     Bahwasannya segala kejadian dan perbuatan baik di wilayah yang menguasai manusia ataupun yang di kusai manusia, semuanya terjadi dari benda, baik benda itu termasuk dalam unsur semesta,manusia maupun kehidupan.
 
     Misal, Peristiwa tabrakan antar mobil (benda, bersipat keras) dengan manusia; kebakaran, antara api dengfan benda lain, dsb.
 
     Sesungguhnya, Allah SWT juga telah menciptakan benda-benda tersebutbeserta khasiat-khasiat/karakteristik (sipat-sipat) tertentu pada benda-benda tersebut. Contohnya saja di dalam api di ciptakan khasiat ‘membakar’. Dalam kayu terdapat khasiat ‘terbakar’. Dalam pisau (benda tajam­) terdapat khasiat memotong, demikian seterusnya.
 
     Allah SWT telah menjadikan khasia-khasiat ini tunduk sesuai dengan ‘nidzom wujud’ yang tidak bisa di langgar lagi. Apabila suatu waktu tampak khasiat ini melanggar ‘nidzom wujud’, hal ini karena allah SWT telah menarik khasia tadi. Hal ini merupakan sesuatu di luar kebiasaan, yang hanya terjadi bagi para nabi dan menjadi mukjijat bagi mereka.
     Sebagaimana halnyan pada benda-benda yang telah di ciptakan khasiat-khasiatnya, maka pada diri manusiapun telah di ciptakan pula kebutuhan-kebutuhan jasmani (Hajatul Udhowiyah) dan kebutuhan-kebutuhan naluri  (gharizah-gharizah/insting).
 
    Pada Gharizah dan kebutuhan jasmani ini telah di tetapkan pula khasiat-khasiat seperti benda-benda yang lain. Misaknya saja pada gharizah melanjutkan keturunan (Gharizatub Nau) di ciptakan suatu khasiat, yaitu berupa dorongan seksual. Di dalam kebutuhan jasmani di ciptakan pula khasiat-khasiat seperti lapar , haus dan sebagainya. Semua khasiat-khasiat ini di jadikan Allah SWT  dan tunduk sesuai dengan ‘nidzomulwujud’(peraturan alam).
 
     Seluruh khasiat yang di ciptakan oleh Allah ini, baik yang terdapat pada benda-benda ataupun yang terdapat pada manusia (gharizah serta kebutuhan jasmani), inilah yang di namakan Qadar (penetapan). Sebab hanya Allah sendiri yang menciptakan benda-benda, gharizah-gharizah serta kebutuhan jasmani tersebut. Dan Ia menetapkan khasiat-khasiat di dalamnya, khasia-khasiat ini tidak datang dengan sendirinya dari unsur-unsur tersebut seperti pernyataan orang-orang atheis/materialis. Dalam masalah ini, manusia sama sekali  tidak memiliki andil atau pengaruh apapun. Ia hanya di wajibkan untuk mengimani bahwa yang menetapkan khasdiat-khasiat dalam benda-benda tersebut hanyalah Allah SWT.
 
     Seluruh khasiat ini memiliki “qabiliyyah” (tendensi/kecenderungan) untuk di gunakan oleh manusia guna berbuat suatu amal perbuatan. Apakah perbuatan itu berupa kebaikan ataukah keburukan. Apabila di gunakan sesuai perintah Allah, perbuatan tersebut berarti perbuatan ‘baik’. Sedangkan apabila di gunakan untuk melanggar aturan Allah SWT berarti ia telah berbuat ‘jahat’. Baik ia melakuakan perbuatan itu dengan menggunakan khasiat-khasiat yang ada pada benda, atau denga memenuhi panggilan gharizah dan kebutuhan jasmaninya.
 
 
Makna Iman kepada Qadla dan Qadar, Baik -buruknya dari Allah SWT
 
Dengan demikian,perbuatan atau kejadian yang terjadipada wilayah yang menguasai manusia, datangnya dari Allah SWT , apakah baik atau buruk. Dan khasiat-khasiatyang ada pada benda-benda. gharizah-gharizah serta kebutuhan jasmani juga datangnya dari Allah, baik hal itu bisa menghasilkan kebaikan ataupun keburukan. Oleh karena itu wajib bagi semua seseorang muslim untuk beriman kepada qadha, baik dan  buruknya dari Allah SWT.
                Dengan kata lain meng’it’qadkan bahwasannya kejadian-kejadian yang berada di luar kekuasaannya adalah ari Allah SWT. Dan wajib pula bagi seorang muslim untuk beriman kepada qadar, baik dan buruknya dari Allah SWT. Baik khasiat-khasiat tersebut dapat menghasilkan kebaikan atau keburukan. Manusia sebagai mahluk tiada mempunyai pengaruh apapun dalam hal ini. Misalnya saja terhadap ajalnya, rizkinya dan dirinya, semua dari Allah SWT. Sebagaimana pula kecendrungan seksualnya yang terdapat pada gharizatun-nau atau kecendrungan untuk memiliki  yang ada pada instink ‘survive’nya (gharizatul-baqo’) atau rasa lapar dan haus yang terdapat pada kebutuhan jasmaninya. Hal ini semua datang dari Allah SWT semata.
 
 
 
AMAL MANUSIA YANG AKAN DIHISAB
 
                Demikianlah pembahasan yang berkaitan dengan kejadian-kejadian yang terjadi pada wilayah yang pertama, yaitu yang menguasai manusia dan pada khasiat-khasiat seluruh unsur . Adapun pada wilayah yang kedua,yaitu yang dikuasai oleh manusia ; maka pada wilayah ini manusia berjalan ‘secara sukarela ‘ diatas ‘nidzom’  (peraturan)  yang dipilihnya, baik itu syari’at Allah SWT atau syari’at yang lainnya. Pada wilayah ini terjadi kejadian dan perbuatan yang berasal atau menimpa manusia disebabkan kehendaknya sendiri. ia berjalan, makan, minum dan berpergian kapan saja dikehendakinya . Ia membakar dengan api dan memotong dengan pisau apa saja yang dikehendakinya. Dan ia memuaskan keinginan seksualnya ataupun keinginan memiliki barang ,atau keinginan perutnya dengan cara apapun yang ia kehendaki. Ia ‘melakukannya’ dengan sukarela sebagaimana ia ‘tidak melakukannya’ juga dengan sukarela, karena iotulah ia akan ditanya atas perbuatan-perbuatannya didalam wilayah ini.
                Meskipun khasiat-khasiat pada benda, ghazirah serta kebutuhan jasmani yang telah ditakdirkan oleh Allah dijadikannya tunduk di bawah taqdir, namun hal itu mempunyai efek (bekas) pada hasil suatu perbuatan . bila terjadi suatu perbuatan atau kejadian , bukan khasiat-khasiat ini yang melakukan perbuatan, melainkan   manusialah yang melakukan perbuatan disaat ia menggunakan khasia-khasiat tadi. Dorogan seksual yang terdapat pada gharizatun-nau’ memang mempunyai ‘qabilah’ untuk kebaikan atau keburukan. akan tetapi yang melakukan perbuatan baik atau buruk adalah manusianya itu sendiri, bukannya gharizah atau kebutuhan jasmani.
                Hal ini karena Allah SWT telah menviptakan akal bagi manusia yang mampu membedakan. Didalam tabi’at akal ini diciptakan kemampuan memahami serta membeda-bedakan mana yang baik (taqwa), dan mana ynag buruk, sebagaiana firman-Nya dalam QS As-Syam 8 yang artinya;
 
“(Dan) ia pun memberinya ilham akan mana yang buruk dan mana yang taqwa.
 
                Dan di sisi lain, Allah telah menunjukkan kepada manusia jalan baik dan buruk, sebagaimana firman-Nya  dalam QS Al-Balad 10 yang artinya;
 
“Telah kami tunjukkan padanya dua jalan.
 
                Maka, apabila manusia memuaskan panggilan gharizah dan kebutuhan jasmaninya sesuai dengan perintah dan larangan Allah SWT berarti ia telah melakukan kebaikan dan berjalan di atas jalan taqwa. Akan tetapi apabila ia memenuhi panggilan gharizah dan kebutuhan jasmani seraya berpaling dari perintah Allah dan larangan-Nya berarti ia telah melakukan perbuatan buruk dan berjalan diatas jalan kejahatan. Jadi pada setiap dua keadaan ini manusialah yang menghasilkan perbuatan, entah perbuatan itu baik ataupun  buruk. Entah perbuatan itu berasal dari dirinya atauyang menimpanya. Dia sendirilah yang memenuhi kebutuhannya sesuai dengan perintah Allah dan larangannya sehingga ia telah berbuat jahat . Di atas dasar inilah manusia dihisab atas perbuatan-perbuatan yang terjadi pada wilayah yang ia kuasai.Kemudian diberi pahala dan dosa ergantung pada perbuatannya. Sebab ia melakukannya tapa ada paksaan sedikitpun.
                Walaupun gharizah / instink dan kebutuhan jasmani itu dari Allah serta kecendrungan untuk dipakai dalam perbuatan baik dan buruk juga diciptakan oleh Allah, akan tetapi Allah tidak menciptakan  khasiat-khasiat ini dalam bentuk yang memaksa manusia untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan. Baik perbuatan itu diridlai oleh Allah atau dibenci -Nya. Melainkan khasiat-khasiat ini dijadikan oleh Allah bisa berfungsi apabila digunakan oleh manusia dalam bentuk yang tepat.
Dan pada saat Allah menciptakan manusia berikut gharizah-gharizah dan kebutuhan jasmaninya serta diciptakan pula baginya akal yang sanggup membeda-bedakan, maka diberikan pula kepada manusia kebebasan memilih untuk melakukan perbuatan atau meninggalkan tanpa pernah ada paksaan.
Jadi manusia bebas untuk  melakukan suatu perbuatan ataupun meninggalkannya dengan menggunakan akalanya yang mampu untuk membeda-bedakan. Dijadikannya akal sebagai sandaran ( manath) pembebanan kewajiban syariat. Oleh karena itu Allah menyediakan pahala bagi perbuatan baik manusia, sebab akalnya telah memilih untuk menjalani perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan untukperbuatan jahat, manusia disediakan siksaan, sebab akalnya telah memilih untuk melanggar perintah Allah dan larangan-Nya. Yaitu pada saat manusia memenuhi tuntutan gharizah serta kebutuhan jasmaninya bukan dengan cara yang telah diperintahkan oleh Allah. Jadi balasan terhadap perbuatan semacam ini  merupakan balasan yang hak serta adil. Sebab manusia bebas memilih tanpa ada paksaan apapun.
Dalam masalah ini tidak ada urusannya dengan qadha dan qadar. akan tetapi masalahnya adalah tindakan si hamba sendiri dalam melakukan sesuatu perbuatan secara sukarela. Oleh karena itu manusia bertanggungjawab penuh atas perbuatannya, sebagaimana firman Allah :
“ Setiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya” (QS Al-Mudatsir 38).
 
                Adapun halnya mengenai ilmu/pengetahuan Allah terhadap sesuatu. Ilmu tersebut tidaklah memaksa si hamba itu untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu perbuatan. Sebab Allah telah mengetahui bahwa si hamba  akan melakukan perbuatannya secara sukarela. Dan perbuatan itu dilakukan oleh si hamba bukan berdasarkan ilmu Allah melainkan telah menjadi ilmu Allah yang azali, bahwasannya manusia akan melakukan perbuatan tersebut. Adanya tulisan di dalam Lauhil Mahfudz  tidak lainmerupakan perlambang (ta’bir) mengenal Maha Luasnya  Ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu.
                Demikian pula halnya dengan iradah Allah. ia pun tidak memaksa si hamba untuk melakukan suatu perbuatan. Karena yang dimaksud dengan iradah adalah Allah bahwasannya tidak akan terjadi sesuatu apapun  di kekuasan-Nya kecuali dengan Kehendak-Nya. Dengan kata lain tidak tidak ada seduatu apapun di alam semesta ini yang terjadi berlaawanan dengan kehendaknya. Jadi apabila si hamba melakukan suatu perbuatan tanpa di cegah oleh Allah dan tanpa dipaksa dan dibiarkannya melakukan secara sukarela, maka pada hakekatnya perbuatan si hamba tersebut berdasakan  Iradah Allah, bukan berlawanan dengan kehendak-Nya. Perbuatan tersebut dilakukan oleh si hamba secara sukarela berdasarkan pilihannya. Sedangkan iradah Allah tidak memaksanya untuk berbuat.
 
Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Jumat, 25 Maret 11 - 03:26 WIB
Dalam Kategori : PENGETAHUAN, AGAMA
Dibaca sebanyak : 5457 Kali
Tidak ada komentar pada blog ini...
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback